Chocolate Covered Sesame Balls

Rabu, 21 November 2007

Gambaran Bahwa Islam Diterapkan Dengan Pedang Hanya Khayalan Barat

Ini adalah petikan tulisan dari Waspada online(tanggal 16 November 2007), yang merupakan Wawancara Dengan Karen Armstrong (Seorang Pakar Agama). semoga menambah wawasan kita...

----------------------

KAREN Armstrong pernah bertugas sebagai suster di asrama Kristen Katolik selama tujuh tahun sebelum meninggalkan pekerjaan itu dan pergi menuntut ilmu di Oxford. Sekarang, dia termasuk di antara pakar agama (theologi) paling terkenal dan telah menulis sejumlah buku yang laris manis tentang agama. Dia termasuk di antara 18 anggota utama Aliansi Peradaban, lembaga yang dibentuk mantan Sesjen PBB Kofi Annan, yang tujuannya untuk memerangi ekstrimisme dan lebih jauh membangun dialog antara dunia Islam dan barat. Berikut pembicaraannya dengan wartawan Jerman, Andrea Bistrich, tentang politik, agama, ekstrimisme dan negara yang mendengarkan aspirasi warganya.

Andrea Bistrich (AB): Peristiwa 11 September telah menjadi simbol besar, permusuhan antara barat dan Islam yang tidak terselesaikan. Setelah serangan itu banyak warga Amerika bertanyatanya: "Kenapa mereka membenci kami?" Dan para pakar dalam sejumlah pembicaraan meja bundar memperdebatkan apakah Islam memang agama yang kejam. Benarkah itu?

Karen Armstrong (KA): Sama sekali tidak. Malah kekejaman dan kekerasan lebih banyak terdapat di Bible dibanding Al-Qur'an. Gambaran bahwa Islam diterapkan dengan sabetan pedang hanya ada dalam khayalan barat, direkayasa ketika terjadi Perang Salib di mana, kenyataannya, kaum Kristiani baratlah yang melancarkan perang secara brutal terhadap kaum Muslim.

Al-Qur'an melarang perang keji dan hanya mengijinkan dilancarkannya perang untuk tujuan membela diri, ketika pihak musuh mengusulkan perdamaian, Al-Qur'an memerintahkan Muslim untuk meletakkan senjata dan menerima syarat yang diajukan musuh, meski syarat tersebut dirasa merugikan. Selanjutnya, Islam melarang Muslim menyerang negara di mana saudaranya sesama pemeluk agama Islam diijinkan menjalankan ibadah mereka dengan bebas. Membunuh warga sipil adalah tindakan terlarang, demikian pula dengan merusak bangunan dan melakukan pembakaran dalam perang.

AB: Apa yang membuat fundamentalisme, kelihatannya, mendominasi sekarang ini?

KA: Ketaqwaan suatu kaum yang kita sebut 'fundamentalisme' pasti muncul dalam setiap kepercayaan di dunia. Ada fundamentalis Budha, Kristen, Jahudi, Sikh, Hindu, Konfusi, begitu juga Islam. Dari tiga agama monotheis Jahudi, Kristen dan Islam kaum pemeluk agama Islam merupakan yang terakhir mengembangkan mental fundamentalis semasa tahun 60-an.

Fundamentalisme merupakan wujud pemberontakan terhadap masyarakat modern sekuler, yang memisahkan antara agama dan politik. Di mana pemerintah sekuler barat berdiri, akan terbentuk gerakan agama yang menentangnya. Kelompok fundamentalis ingin mengembalikan Tuhan/agama yang telah dikesampingkan dalam budaya modern untuk kembali menjadi hal utama. Semua gerakan fundamentalisme muncul karena takut pada pemusnahan: baik itu Jahudi, Kristen atau pun IslamSemua gerakan fundamentalisme muncul karena takut pada pemusnahan: baik itu kaum Jahudi, Kristen atau pun Muslim.

Kalangan fundamentalis meyakini bahwa masyarakat sekuler atau liberal ingin menyingkirkan mereka. Ini bukan sebuah ketakutan tidak berdasar: Fundamentalisme Jahudi muncul setelah Nazi melancarkan aksi Holocaust dan Perang Yong Kippur di tahun 1973.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar