Chocolate Covered Sesame Balls

Senin, 09 Mei 2011

Rosalie for Romeo..

Bagaimana cara menuliskan namamu adalah sesuatu yang masih mengambang bagiku. Sebagaimana ambigunya wajahmu yang tiada pernah kulihat dan tiada pernah kutemui wujudmu. Namun apa yang engkau tulis berkelana sesuka hati di dalam kepalaku, memaksa diriku menjawab- karena seoalah-olah engkau berbicara kepadaku. Namun nampaknya, engkau bagi diriku tetap akan menjadi Rosalie bagi Romeo, hanya menjadi kekasih dalam khayalnya- hanya dalam khayalnya..

-Sebelum engkau jauh dan kelelahan tanpa makna mencerna apa yang aku tulis ini, ku katakana kepadamu; ini bukanlah soal cerita Rome dan Juliet, atau apa pun tentang Romeo- Shakespare- Juliet- atau apapun yang berkenaan dengan roman itu- sama sekali tidak ada hubungannya. Kukatakan ini karena siapa tau engkau kebetulan nyasar kemari hanya karena keyword yang engkau haturkan di ‘search bar’ oom gugel mengandung suku kata sepereti di atas itu..- ini hanya sebuah oret-oret yang semacam mengalir saja tanpa tujuan yang jelas- begitulah dalam banyak waktu -_-. -

Bila aku menyebut-nyebut ‘mimancherai’, sesungguhnya aku tidak pernah memahami arti dari lirik lagu itu jauh ketika aku telah menyukai melodi dan juga kepedihan yang ada di dalamnya. Dan aku sama terkejutnya seperti dirimu ketika menemukan bahwa itu semua adalah tentang kehilangan, dan kekosongan. Dan sesungguhnya aku mendapati diriku seperti itu- beberapa waktu sebelum aku bertemu dirimu- oh, lebih tepatnya- bertemu dengan apa pun yang urai dari jemarimu

Apa yang engkau tulis sesungguhnya seperti air yang dituang kedalam gelas yang kosong lama tak terisi. Aku mensyukurinya- sekalipun terkadang aku juga khawatir bahwa aku kemudian akan menjadi berlebihan mengaguminya.

Aku tahu, sesungguhnya engkau tiada butuh penjelasan begini. Seperti diri dan jiwamu yang bebas, maka apa yang kutulis ini juga dapat leluasa engkau maknai kebaikannya untuk dirimu sendiri. Sekalipun sesungguhnya aku berharap ini menjadi jawab bagi pertanyaan pertanyaan yang barangkali sesungguhnya tiada pernah engkau tanyakan. Ku rasa begitu. Aku tentu tidak dapat memaksa kehendak pikirku bahwa dalam banyak keadaan, sesungguhnya kita saling memikirkan.. haha, betapa naïf dan dipaksakan ya pikiran seperti ini :D

Menurutmu, bagaimana bisa namamu terus melafal oleh lidahku, dan mengalir keluar dari paru-paru yang sesak ketika aku tersesat dalam gelisah yang tidak hilang sekalipun aku mengerjap berkali-kali. Itu adalah hal yang tidak kupahami. Tidak, aku tidak sedang merayu.. hehe

Kukatakan kepadamu, bahwa aku merindukan celupan yang pernah mewarnai begitu rupa. Celupan seperti jingga sore hari ketika malam akan menelan harinya. Celupan seperti warna daun-daun yang menghalangi pancaran langit biru. Celupan air hujan pada udara kering yang menenangkan. Celupan dingin cuaca pada malam yang hening dan hanya dengan memeluk tubuh sendiri itu pun sudah cukup untuk merasakan kehangatan semesta. Celupan- yang meluntur dari ku sejak hari-hari dimana tanpa sadar aku perlahan-lahan menanggalkan kedekatan kepadaNya.

Aku merindukan itu semua..

Pertemuan dengan uraian jemari mu adalah bagian dari perjalanan menemukan kembali- kuharap begitu. Bukan sesuatu yang semakin melunturkan warna yang justru kian memudar. Ku katakan bahwa aku khawatirkan itu. Engkau mengerti?

“..I look at myself and I find emptiness inside of me
And joy, my friend, goes away with (Y)ou”
(Mimancherai- Josh Groban)

Aku menyukai apa yang engkau tulis seperti aku menyukai es krim vanila. Aku selalu merindukan rasanya sekalipun setiap makan es krim itu menjadi pesanan pertama dan penutup bagiku. Kau tau tidak? Es krim coklat itu selalu menggoda di jilatan pertama, sensasinya seolah memaksaku untuk berganti selera. Campurannya dengan es krim rasa jagung adalah sesuatu yang berbeda. Namun- pada kenyataannya- aku nampaknya telah benar benar berubah. Aku tak dapat lagi berpindah-pindah dari vanila ke coklat, atau pun juga rasa lainnya.. sekalipun sensasi dan warna kadang begitu menggoda, sesungguhnya vanila is my pleasure, sama halnya dengan kedamaian yang ditemui jiwaku ketika melarik segala sesuatu yang urai dari jemarimu. Sekalipun itu tentu saja tidak dapat menggantikan kedamaian yang kurasa ketika aku merasa dekat dengan Tuhanku. Engkau mengerti kan? J

Ya, begitulah maksudnya.. J

Senin, 09052011 21:11

Sesungguhnya bagaimana cara menuliskan namamu adalah sesuatu yang masih mengambang bagiku. Sebagaimana ambigunya wajahmu yang tiada pernah kulihat dan tiada pernah kutemui wujudmu. Namun apa yang engkau tulis berkelana sesuka hati di dalam kepalaku, memaksa diriku menjawab- karena seoalah-olah engkau berbicara kepadaku. Namun nampaknya, engkau bagi diriku tetap akan menjadi Rosalie bagi Romeo, hanya menjadi kekasih dalam khayalnya- hanya dalam khayalnya..

Senin, 02 Mei 2011

Syukur yang tak Habis habis


Terkadang, aku masih ingin bantal memeluk tangisku hingga kantuk menyeret mata dan membuat aku tidak sadar- hingga esok pagi aku terbangun msih dalam kedaan sangat bingung. Hingga lalu tiba-tiba aku tersadar bahwa aku masih ‘ada’, dan bergegas mengucap sesuatu sebagai pertanda syukur yang tak habis habis. Sekalipun dalam keadaan begitu- sesungguhnya aku tidak begitu mengerti apa yang sedang mengalir melalui ucapku itu. Semua mengalir saja, yang penting aku tidak tiba tiba menjadi gila..

Aku ingin mencukupkan hari hari itu. Tapi terkadang ada bagian lamunan yang serta merta membuat mata ini menangis- tanpa sebab bahkan. Tanpa alasan yang cukup. Ketika semua luka telah tak lagi peduli pada kesembuhannya- kukira takkan ada lagi air mata. Tapi, ternyata tidak juga begitu

Tuhan, aku tahu, selayaknya aku bersyukur kepadaMu bukan? Hanya kepadaMu. Sesungguhnya, setelah kuhitung-hitung, diantara hari dalam seminggu, hanya dua hari paling banyak diantaranya dimana nelangsa masih menyergap-nyergapku, berhimpitan dengan udara dalam rongga-rongga dalam darahku. Dalam keadaan itu, aku menadi demikian marah- kepada diriku. Karena dalam keadaan itu, aku sungguh sama sekali tak punya kuasa untuk menolak rasa seperti itu- rasa nelangsa yang menyergap tiba-tiba. Tidak bisa berkelit. Tidak bisa mengatur-ngatur apa pun sesuka hatiku.

Sesungguhnya, seperti yang sering kukatakan kepadamu, aku sangat menyukai saat-saat berkendaraku. Sangat mensyukurinya. Dan pada banyak hari, aku sering khawatir akan hari libur. Karena pada hari itu aku akan mendekam dirumah- tanpa sedikit pun waktu untuk mengajak kendaraanku melamum dalam perjalanan. Tanpa waktu memejam mata sepersekian menit dalam setengah jam lebih, atau lebih dari itu.

Iya, aku takut pada hari libur, sama besarnya dengan ketakutanku pada menit yang tidak ’sibuk’. Karena aku khawatir nelangsa mencuri lebih banyak waktuku dari pada waktu yang kugunakan untuk menyibukkan diri, atau sekedar pura-pura sibuk- sesungguhnya itu lebih baik bagiku...

Maka, kesyukuranku berikutnya adalah karena sekarang aku masih bekerja, masih sibuk menjalani pekerjaan ini sekalipun aku begitu terburu buru untuk segera mendapat pekerjaan yang lebih baik.. amiin. Semoga aku diampuni, amiin..

Untuk semua hal yang ku lihat, ku dengar, dan ku baca, namun tiada pernah kusentuh, adalah hal berikutnya yang kusyukuri, teman yang tiada baik kukenal dan tiada pernah kutemui namun telah begitu banyak menemani maya..

Untuk ibu, yang selalu menaruh sebentar pekerjaan di dapur sekedar mengantarku berangkat dengan skuter putihku. Yang menunggui aku pulang, dan kemudian menjadi agak kecewa ketika adzan magrib mendahuluiku. Untuk ibu, ya Tuhan ajari aku supaya dapat lebih bersyukur kepadanya. Untuk ibu, yang semoga Engkau anugerahkan dia kesehatan untuk sisa usia sehingga dapat terus kuat mengingatiMu. Untuk ibu, yang aku memohon kepadaMu supaya dihindarkan dari kerugian tidak merawat dia di masa tuanya. Untuk ibu, semoga Engkau mengampuni dosanya dan menyayangi seperti dia menyayangi ku diwaktu kecil hingga saat ini, dan sampai kapan pun...

Amiin

*saya tau ibu tidak akan pernah membaca ini.. :) nice rest Mam. Semoga berkah Allah selalu bersamamu, amiin

Terkadang, aku masih ingin bantal memeluk tangisku hingga kantuk menyeret mata dan membuat aku tidak sadar- hingga esok pagi aku terbangun msih dalam kedaan sangat bingung. Hingga lalu tiba-tiba aku tersadar bahwa aku masih ‘ada’, dan bergegas mengucap sesuatu sebagai pertanda syukur yang tak habis habis. Sekalipun dalam keadaan begitu- sesungguhnya aku tidak begitu mengerti apa yang sedang mengalir melalui ucapku itu. Semua mengalir saja, yang penting aku tidak tiba tiba menjadi gila..

Sabtu, 30 April 2011

Tak Pernah Kecewa [Hoax]

Cinta,
Apa yang engkau bait dalam aksara begitu mempesona. Aku jadi seperti tenggelam ke bagian laut paling indah yang tiada pernah disentuh manuasia. Aku jadi seperti terbang di antara awan-awan, berayun- ayun sesuka hati menikmati angin sepoi yang semaput. Aku jadi seperti melihat genangan hijau dari atas bukit yang paling biru. Berucap ucap takjub nama Tuhan, memabuk syukurku seperti ketika tanpa sadar aku menemukan diriku sedang menatap bulan.

Aku dapat tertawa riang karena begitu lugu engkau berceracau seperti anak kecil yang tidak peduli pada waktu yang semakin lama akan menuakan kita. Dan aku mengagumi pesan yang hendak engkau titip, sekalipun kelihatannya engkau begitu kebingungan menjelaskan itu semua.

Aku seperti sedang menghangatkan diri dekat perapian sambil terus mendengar biola yang memainkan intro ’mimancherai’, lalu ’damai tapi gersang’ Adjie Bandi. Begitulah haru menyelinap pelan dan tersimpan setiap aku membayangkan sudut-sudut rahangmu yang tertarik sempit ketika tertawa.. dan begitulah pilu menyayat, sehebat apa pun keningku mengerut takkan sanggup aku menyamai rasanya sakit yang engkau sembunyikan diam-diam di palung hati paling dalam.

Cinta,
Hari ini, tadi pagi, aku masih membaca aksaramu. Terkadang aku merasa itu begitu ‘biasa saja’, namun keesokan paginya rindu akan kembali menyergapku dan memaksaku membuka kembali halaman-halaman yang terjadi oleh tuts keyboard dan jemarimu.

Apa yang engkau bait dalam aksara begitu mempesona. Kadang aku selalu seperti mencari sesuatu di dalamnya, seperti anak kecil yang membongkar bahan belanjaan ibunya, mencari-cari permen, manisan, atau apa saja yang 'bisa dimakan saat itu juga', tanpa pernah menemukan. Namun aku tak pernah kecewa karena sisa dari aksara sebelumnya telah menancap-nancap dan menyisakan cukup penawar bagi rinduku. Dan kadang aku tidak ingin baris-baris itu berakhir begitu saja. Ketika menyelesaikan semuanya, aku baru menyadari bahwa semua telah tiada, bagiku, bagimu, bagi kita

Yang ku pahami bahwa keindahan dan kehalusan akan terus mengalir, demikian juga dengan makna dan keindahan, semua tetap bersuka ria di dalamnya, di dalam bebait aksaramu- sambil tetap mengingat Tuhan

29 April 2011; 23.52
-----------

*”ini hanya permainan kata-kata..”

Nice rest..!

Selasa, 26 April 2011

itu saja dulu-

Dapatkah aku membakar api dalam angin yg membadai?

Tentu saja aku dapat!

aku menangkupkan telapak tanganku dg lembut
membiarkan liuknya mereda, dan menurut pd bebadai y ribut

kemudian aku dapat membakar apa saja
keaadaan y mengering,
atau waktu y melapuk

namun tidak demikian
aku hanya ingin sedikit saja terang
yang dengannya aku masih bs melihat diriku

untuk sementara,
itu saja dulu

---

malam ini; saat ini juga
"ini hanya permainan kata kata.."

pray for today, say God's name, have a gud rest.. :)

Rabu, 20 April 2011

Jejak

Ku hela lekas nelangsa ini. Bukan karena aku tak dapat menghargai rasa bersalahmu. Namun sesungguhnya aku menghindari rasa bersalahku sendiri- ketika aku merasakan riangmu. Rasa bersalah yang mencuat karena aku ini hina adanya..

Takkan kutangkup telapak tanganku di kening. Agar tak lagi jemari kita bertemu dalam pilin pilin rambut mimpi. Kubiarkan saja semua mengalir sambil mengira ngira; apakah 15 tahun lagi nelangsa yang kadang kadang masih datang ini akan datang lagi sesekali dengan kekuatan sesak yang sama

dan sesungguhnya aku ingin bertanya;
apakah yang sedang kecamuk di harimu?
hening manakah yang mengatup rahangmu?
dan bagian waktu manakah yang engkau sesali..?

oh, Tuhan- ampuni aku jika tanpa menyadari aku menyakiti
bila aku tak dapat memenuhi harapan yang kukasihi
ampuni aku- yang tak meminta maaf, padahal aku melukai
aku- yang mencela tanpa mengaca diri
ampuni aku jika sekali sekalli nelangsa begini juga terasa olehmu

dan aku gemetar, setiap mengulang buka lembar lembar yang mencatat kita
ku katakan bahwa aku tiada lagi marah- kepadamu
namun kepada diriku- kadang aku memaki; mengapa aku turut pada kebodohanku?
dan tentu saja aku harus meminta ampun untuk kejahatan atas diriku sendiri- yang kusadari atau tidak


seperti yang kukatakan bahwa segala sesuatu telah berangsur rela
namun aku juga tak dapat membayangkan jika sekali waktu kita bertemu mata
adakah engkau masih akan mencari bagian diriku yang tiada pernah kau temu dalam bayang bayang di retinaku?
sesuatu yang pernah engkau inginkan- dan mungkin 15 tahun nanti semua telah tiada..


13042011

Minggu, 17 April 2011

Biarkan saja dulu Bundar melingkar

Dan nampaknya malam ini aku telah menemukan sebuah segitiga yang engkau maksud. Aku tak mau pusing dengan teorema yanag engkau kutip. Dan aku juga tak ingin larut dalam Euclidean Euclidean yang begitu ambigu. Baiknya kubiarkan saja dulu bentuk itu bundar melingkar, sementara bulan akan menyusul penuhnya beberapa hari lagi..

Menurutmu, apakah sebaiknya aku tidak melanjutkan menulis ini- hanya karena aku terlalu khawatir bahwa tetulis ini tiada akan bermanfaat adanya?? Menurutmu, manakah lebih baik; aku terus menulis, atau aku mulai memainkan lagi Texas Holdem Poker??

Oh, tapi, dengar dulu. Apakah aku sudah bercerita kepadamu tentang perjalanan setiap hariku di bawah dedahan dedahan yang melengkung hijaunya- dan teduhnya membuatku tak ingin mengakhiri perjalanan ini? Perjalanan yang selalu dapat menenggalamkan semua ingatan akan apa apa yang tiada ingin ku ingat lagi. Menguburnya dalam untuk sementara karena aku tidak tau dimana harus menyembunyikannya lagi. Karena aku tidak tau apakah dengan terus mengingatnya aku dapat melupakannya..

Apakah aku sudah bercerita kepadamu tentang wajah wajah yang kutemui setiap pagi dan petang? Wajah wajah lelah pengasong tilam palembang, atau penjaja bakpao yang tak tampak berkurang barang dagangannya tapi mereka tetap berjualan. Wajah wajah anak sekolah yang berboncengan, atau dibonceng, atau membonceng, atau sekedar berjalan kaki dengan seragam yang dulu aku juga pernah memakainya. Wajah wajah ibu ibu yang mungkin sebaya- lebih muda- dan kadang lebih tua sedikit dari pada wajah ibuku, yang mereka itu berkeringat menunggu angkot dengan seragam pegawai negeri sipil- wajah pias sebagian besar ibu ibu pencari nafkah. Wajah wajah punggung kakek kakek pesepeda, yang bajunya lusuh dan dayungan sepedanya membuat aku khawatir untuk sekedar lewat disampingnya, dan membungkam keinginan ku untuk mengintip rautnya betapa sangat pilu akan dunia yang mungkin- mengecewakan- mungkin juga sama lelahnya dengan kayuhan kayuhannya..

Apakah aku sudah menceritakan kepadamu bahwa aku mulai menyukai bau tembakau, yang setiap pagi lamat lamat menyeruak dari sebelah ruang nafkahku. Ku katakan kepadamu, bau tembakau dicampur rempah rempah negeri kita itu sangat harum baunya. Amat menyembuhkan kegalauan dan mengusir penat berkendara 45 menitku. Bau tembakau, bau tembakau yang belum dibakar. Bau tembakau- yang aku menjadi muak dan menyerapah dalam hati jika mencium asap bakarnya. Dan membuatku memohon mohon kepada Tuhan akan sebilah pekerjaan lain memotong segera peruntunganku di sini. Sekalipun aku tau tiada dapat memaksa maksa kehendakNya..

Nampaknya aku sudah menceritakan itu semua kepadamu ya?? Apalagi tentang purnama-purnama yang kugambarkan dengan menyebalkan melalui puisi puisi cengeng dan picisan itu. Juga hujan yang rinainya sepereti tak habis habis di belakang rumahku. Juga tentang langit hitam malam yang selalu menjadi selimut bagi malam malam begini. Apa lagi??

Mengenai segitiga yang sudah atau sedang engkau buat, aku tidak ingin pusing mengenainya. Selesaikan saja semua sudut sesuka hatimu. Aku ingin menerus malam malam tetap dengan bintang bintang yang sinarnya ku tahu ada sekalipun tiada dapat mata ini melihatnya.

Menurutmu, apakah aku harus bersembunyi begitu? Atau engkau yang harus menyembungikan dirimu dariku? Hoh, jika apa pun tentang aksara aksara ini sangat mengganggumu- maka tinggalkan saja- apa saja yang jika engkau melihatnya- engkau jadi menyudutkan dirimu. Jika aku adalah seorang pejalan kaki pada tetaman aksaramu yang ranum- sesungguhnya tidak ada yang ingin kupetik. Karena dengan melihatnya saja aku bersyukur tentang adanya keindahan ini..

Sesungguhnya, engkau tidak akan pernah menemukan diriku dapat bercerita sepanjang ini kecuali melalui aksara aksara ini.. ini pun sudah terlalu panjang bagiku. Dapatkah kita mengatakan ’kecewa’ sementara kita telah setuju bahwa ’sesabar’ itu tiada ada batasnya..??

Tunggulah, nanti, jika kita bertemu aku akan menceritakan semua- semua kepadamu- sambil memandang biru di laut itu..

----
Saturday- 160411- 00:14

--

Dan nampaknya malam ini aku telah menemukan sebuah segitiga yang engkau maksud. Aku tak mau pusing dengan teorema yanag engkau kutip. Dan aku juga tak ingin larut dalam Euclidean Euclidean yang begitu ambigu. Baiknya kubiarkan saja dulu bentuk itu bundar melingkar, sementara bulan akan menyusul penuhnya beberapa hari lagi.. dan ku harap menulis ini sedikit lebih bermanfaat ketimbang menambah 100 ribu points di Texas Holdem Poker.. Have nice sleep. nice dream.. :)

Selasa, 12 April 2011

katamu, "ini hanya permainan kata kata.."

Dan, sekali lagi, aku menyembunyikan raut merah jambu tatkala membaca guratan tanganmu yang menyentuh waktu waktu sepi. Mulanya ingin kulupakan semua keindahan. Namun ternyata- kehalusan bentukmu lebih kuat menyanjungku. Seperti lentik hari yang ditutup oleh sore yang manis. Oh, sesungguhnya ini hanya permainan kata-kata, begitu katamu. Dan sesungguhnya aku ingin percaya- supaya aku lekas dapat berdamai dengan ingin hati tuk turut tatapannya pada kedamaian ini.

Katakanlah kepadaku tentang apa yang tiada ku ketahui. Tentang sesuatu yang engkau sembunyikan dari aksara aksara ini. Dapatkah engkau melakukannya?

Taukah engkau, dalam perjalanan pulang, sambil menatap langit dari balik kaca helm, sambil mengerjap-ngerjap karena debu kadang masuk saja tanpa minta izin kepada mataku, sambil menyeka apa yang mengalir (kadang-kadang), dan sambil menikmati pepohon yang meneduhi- berjuntai dedahannya di kaki kaki jalan, kadang kadang aku ingin memotret semua ini untukmu. Andai sekali waktu kita dapat bertukar mata- karena aku juga ingin engkau dapat melihat keindahan dari mata ini. Keindahan yang tidak pernah dapat kusimpan dalam hardisk manapun yang ku punya..
Dan seperti  semua keindahan yang kau dan aku rangkum dalam aksara, semuanya tersembunyi oleh kudung kudung permata. Biar setiap hati dapat memandang dan memaknainya dengan keindahan menurut mereka masing-masing, engkau setuju kan??

Sesungguhnya aku tidak dapat menahan diri dari menulis ini, seperti aku tidak dapat menahan diri untuk terus bermain Texas Holdem Poker ketika aku mendapat Kartu As dan angka 10. Tapi malam ini, tadi, aku tidak melanjutkan permainan-hanya karena aku ingin berjinjit dan memutar kepalaku 45 derajat ke kiri lalu menengadah, hanya karena aku ingin bertemu purnamaku yang masih sabit, dan mengatakan kepadanya, betapa aku rindu membaca senyumnya yang terus merawat kedamaian di hati ini.

Bila engkau membaca ini dan kemudian meringis tersipu, sepertinya engkau telah mengerti :) dan aku tak mengapa jika engkau mencibir :D sesuatu yang juga tidak mengernyitkan dahiku..

:D iya iya.. mari kita tertawa saja. Ku kira kita sama nikmati keceriaan ini. Aku tidak ingin membayangkan keajaiban yang terlalu aneh :)

Kukatakan kepadamu, bahwa aku menyukai binar baik ketika sabit atau penuhmu, aku menyukai temaram, juga terang malam yang seperti subuh itu..

Kukira kita sama sama percaya pada kebesaran penciptaanNya, aku bersyukur, dan terus berharap sertaNya, amiin.

110411- 22:48
------------------

* hehe, berasa nulis surat cinta jaman orang tua saiya.. penuh perumpamaan tidak jelas, dan terlalu dipaksakan -_-, ini hanya permainan kata2, mudah2an nanti bisa menulis lebih baik dan lebih jelas tujuannya, huft. Namun bila seseorang nuuuun jauh di sana membaca ini lalu nyengir, hehe, maka beruntunglah dia :D ini untuknya..

** okeh, have a nice sleep.. ;)