Chocolate Covered Sesame Balls

Rabu, 28 Desember 2011

Sometime A Year Felt Like A Day


Menurutmu mengapa aku tetap terjaga malam ini padahal seharusnya kelelahan yang  menguras tenaga tadi hari sudahlah cukup untuk membuat mata ini terlelap indah. Semestinya aku membiar mata juga pikiran ini beristirahat setelah menat yang begitu membingungkan dan sulit dipilih itu. Berada pada dua pilihan tidaklah selalu membuat kita merasa serta merta gembira. Aku jadi ingat ketika kadang bergumam “i dont have choice” atau “if i had another choice”. Tau tidak? Bahwa terkadang dihadapkan pada hanya satu-satu nya pilihan itu justru sebuah kemudahan yang harus disyukuri. Bukankah itu berarti Allah mempermudah kita untuk menjalani kehidupan ini yang begitu rupa warna dan kadang kita jadi buta membedakan warna-warna yang cocok dengan warna kulit sendiri versus warna yang kita sukai..

Bagaimana jika kukatakan ini adalah saat-saat yang genting? Apakah engkau akan datang. Tentu saja aku tak perlu berharap banyak. Seperti yang pernah engkau katakan, “ketika kita merasa tidak punya siapa-siapa maka sesungguhnya kita masih memiliki Allah. Dan Allah melebihi apa pun yang kita butuhkan”..

Setahun, adalah waktu yang cukup banyak untuk belajar, bahkan aku merasa butuh beberapa tahun lagi rasanya untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah kusadari itu. Bertemu dengan orang-orang yang sama hitam rambutnya namun beda cara berpikir, bersikap, dan motif-motif tindakannya, adalah satu di antara banyak hal yang membuatku memahami tentang kehidupan yang tidak sekedar hitam dan putih ini. Engkau tau kan bahwa warna abu-abu itu tiada bagi sebagian orang yang begitu keras dan tidak ada ampun itu. Namun telah kulihat bahwa kebaikan dan keburukan itu, sekalipun sangat nyata berbeda, namun terkadang begitu tipis jaraknya. Sehingga kedua-dua nya bercampur saja sehingga cukup bagi kita untuk mengatakan sesuatu itu buruk hanya karena sebagian besar dari kadarnya adalah buruk, mengabaikan segala bebaiknya yang di mata kita hanya sedikit saja. Tidak dapat mengampuni sekalipun ia nya memiliki kesamaan sifat seperti kita; dapat melakukan kesalahan kapan saja; khilaf.

Dan aku adalah seperti itu. Seperti lampu minyak yang menyala-nyala menyuluh kesalahan-kesalahan orang lain. Melihat kesalahan-kesalahan orang lain seolah aku sendiri tidak melakukannya. Menahan-nahan hati dari memaki-maki hal yang tidak kusukai itu. Menahan-nahan mulut dari mencela hal yang sungguh tidak suka untuk kulihat itu. Apakah benar menurutmu jika aku membenci itu semua tanpa melakukan apa-apa? Tidakkah aku lebih buruk dari sekedar seorang apatis yang merasa benar sendiri dan ingin selamanya benar sendiri??

Kenyataannya aku tidak punya kesempatan lagi untuk melakukan itu semua. Engkau tau kan? Bahwa kebanyakan hal-hal baik yang tidak pernah kita lakukan itu akan kita sesali. Di ujung waktu, kita akan menyadari dan menyesali diri mengapa tidak begini dan begitu. Mengapa bersikap begini padahal seharusnya begitu. Mengapa berdiam diri padahal seharusnya mengatakan sesuatu. Mengapa menghakimi padahal seharusnya mengurai yang kusut dan memaafkan. Mengapa merasa benar sendiri dan seolah orang lain tidak dapat menjadi benar..

Dear, satu tahun akan usai. Jika engkau memintaku untuk berdamai dengan ketidakjujuran, selamanya aku tidak dapat melakukan itu. Hari ini aku mengatakan begitu- aku tidak tau nanti barangkali aku akan berubah- menjadi toleran pada hal-hal menipu yang tidak kusukai itu. Semoga saja tidak. Ini bukanlah persoalan “di beberapa keadaan kita memang tidak harus jujur”. Tapi soal kita mendapatkan hak dengan cara yang tidak baik itu, tidak perlu kujelaskan lagi kepadamu kan?

Kata mereka, inilah kehidupan sesungguhnya. Inilah hidup jika kita ingin lebih. Dan inilah pekerjaan jika kita ingin terus berada di dalamnya. Ku kira, untuk hal ini aku tidak perlu minta persetujuanmu untuk tidak setuju.
Seharusnya malam ini aku tidak larut menulis ini, tapi memikirkan dua pilihan yang sama baik dan sama pula buruknya jika aku tidak benar-benar memilih dan merencanakan semua itu karenaNya. Tahukah engkau, itu teramat sulit. Teramat sulit, tapi harus tetap dilakukan.

Aku tidak mempermasalahkan jika engkau mencibirku karena begitu sulit memilih salah satu diantara dua pekerjaan yang mana satu diantaranya jelas tidak memberiku materi lebih. Tapi bukanlah itu alasannya. Seperti yang telah ku katakan sebelumnya- memiliki banyak piilihan itu terkadang justru tidak mengenakkan- ku katakan ini tanpa sama sekali bermaksud tidak bersyukur atas pemberian kesempatan yang luar biasa ini.

Iya aku tahu, semua pilihan akan ada konsekuensinya. Semua jalan yang dipilih akan memberi kita pemandangan yang berbeda-beda. Semakin sulit dilalui semakin besar reward di penghujung tujuannya. Ya ampun, bayangkan saja jika kita mampu menge-set semua nya karena kecintaan ktia akan Rabb- baik, biar lebih mudah izinkan aku katakan bahwa semua ini adalah kecintaan kita untuk terus menjaga diri dalam kebaikan dan kebermanfaatan..  sekalipun itu adalah demi mengisi waktu luang dalam penantian yang luar biasa ini. Hehehe, jangan ketawa, ini tidak lucu .. :p dan jangan pula pura-pura tidak mengerti..

Dear, aku tidak menyangka akan kembali secepat ini. Bukankah seharusnya aku bersyukur karena ini artinya aku telah Dianggap siap untuk kembali menulis hari di kota ini? Apakah menurutmu harus ada yang di sesali lagi? Dan ku kira dua pilihan ini adalah pengkondisian yang luar biasa dari Tuhan. Jika aku memilih tetap tinggal- aku akan lebih lama lagi memendam diri. Dan jika aku mengambil kesempatan ini- maka ini seperti menambah kecepatan beberapa kali lipat, iya kan? Dan aku telah membayangkan kepayahan melalui kerikil-kerikilnya, and i  will not quit..

Aku tau bahwa aku tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Dan semoga setiap pelajaran yang telah ada di tahun sebelumnya dapat menjadi ornamen yang menolong untuk memperbaiki dan semakin memperindah keadaan.

Dan doa semacam ini- aminkan untukku dan untuk kita semua; yaitu bahwa aku memohon supaya Allah senantiasa memberi kekuatan untuk mengisi waktu sendiri ini dengan lebih bijak hingga ia tetap pada alur yang telah kita sepakati di lauhul mahfud itu.. amiin, semoga Allah mudahkan untuk kita semua.

Dan semoga Allah mengampuni ku karena sepertinya aku tidak lagi memiliki kesempatan memperbaiki sikap adilku untuk hal-hal yang tidak kusukai itu. Dan semoga di tahun depan- tidak ada lagi kesalahan yang sama, bagaimana pun kita ini hanya manusia bukan? Yang tetap memiliki rasa suka dan tidak suka, preferensi, dan kecenderungan akan sesuatu. Dan jika hati ini telah cenderung kepada apa yang kita sebut kebaikan itu, maka mudah-mudahan tetap begitu. Semoga Allah menunjuki kita keburukan-keburukan dan memberi kita kekuatan untuk menghindarkan diri sendiri dan orang lain dari padanya- dan semoga Allah tetap berkenan menunjuki kita kebaikan dan senantiasa memberi petunjuk untuk tetap terus di dalamnya, amiin.

Ya Tuhan, aku memohon ampun, untuk semua aib yang telah cerita melalui lidah ini, untuk semua cela yang telah melukai hati yang mendengar atau tidak, untuk semua maki yang kulontarkan sekalipun hanya dalam hati.

Desember 28, 2011

Aku tau kita tidak merayakan tahun baru masehi semacam itu. Namun ku kira kita tetap dapat memanfaatkan momen ini sebaik kita mempersiapkan diri ketika akan meloncati sebuah parit, atau ketika kita bermain lompat tali dulu itu tanpa membuat sambungan kekareitu bergoyang. Mungkin ini bukan awal semester, atau bukan pula hari ulang tahun, dan justru karena itu pula kita jadi memiliki banyak perhentian untuk terus menguatkan pijakan.. write your dream, n good luck!! J


NB: itu gambar gambar desain sama sekali tidak ada hubungan nya dengan oret-oret ituuu.. itu hanya sekedar selingan supaya tidak bosan saja membacanya.. ^____^
1.       


NB

2 komentar :

  1. Ketika pilihan itu menjadi dilema, kembalikan pada-Nya. Bila kita telah meminta-Nya, maka pilihan kita adalah pilihan-Nya. Karena, tidak semua yang baik menurut kita, baik pula menurut-Nya. Atau sebaliknya..

    Istikharah, dan dont give up ^^

    BalasHapus
  2. :) insyaAllah, thanks for supportnya..

    BalasHapus