Chocolate Covered Sesame Balls

Senin, 09 November 2009

Mendengar Yukk!


Kadang kita hanya ingin didengarkan. Didengarkan kadang cukup untuk membuat kita memberi penghargaan tertinggi untuk seseorang. Mengapa?? Karena didengarkan adalah kebutuhan jiwa kita, sejalan dengan kebutuhan diri kita akan penghargaan. Sama seperti tubuh yang butuh makan, makanan bagi jiwa adalah penghargaan dan kepuasaan.

Didengarkan adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi sebaliknya, menjadi pendengar yang baik, tidak selalu menyenangkan dan tentu tidak mudah. Sebagai manusia, itu memang sangat wajar. Sama seperti dalam hal menerima, lebih mudah dari pada memberi. Dipahami, lebih enak dari pada memahami. Dimengerti, lebih menyenangkan dari pada memberi pengertian. Begitulah, fitrahnya...

Coba ingat lagi, ada berapa orang yang sudah kta abaikan untuk kita dengarkan hari ini? Bah! “saya kan sibuk”, “dengerin orang, gua curhat aja ga da yang dengar”, “ga butuh pendegar, saya bisa selesaikan masalah sendiri”, “halagh! Curhat mulu’”, “radio kalee, didengerin..”. Yupz! Banyak seloro, atau celaan yang kita lontarkan untuk menafikan kebutuhan kita “didengarkan orang lain”. Alih alih mengakui, kita lebih memilih untuk mempertahakan gengsi, seolah-olah kita tidak butuh pendengar. Yupz! Satu lagi fitrah, bahwa kita lebih sering mempertahankan gengsi ketimbang berdamai dengan kebutuhan diri kita sendiri.. haha. Hayo ngaku!

Kalo kita sibuk, siapa bilang mendengarkan butuh banyak waktu. Mendengarkan bisa hanya satu menit, 5 menit, bahkan dengan jawaban pendek yang respek kita sudah membuktikan bahwa kita mendengarkan dan telah meahami apa yang kita dengar dengan baik, itu sangat menyenangkan bagi yang di dengar. Kita harus buktikan!

Kalo kita mandiri, didengarkan bukan sekedar ketika kita ada masalah yang tidak bisa selesaikan. Mendengarkan lebih dari itu, kita berbagi atau mendengar hal-hal menyenangkan, menikmati sesuatu yang mungkin bahkan belum pernah kita lakukan sendiri. Ini sangat menarik lho!

Kalo tidak pernah ada yang mendengarkan kita dengan baik (red; sesuai yang kita inginkan), mungkin sebelumnya kita tidak pernah menjadi pendengar yang menarik (red; menyenangkan) untuk orang lain. Ayo! Coba inga’ inga’ lagi.. (sssssssst, jangan tanya padaku “gimana pendengar yang menarik itu?”..hehe)

Kalo kita berpikir bahwa mendengar dan didengar adalah kegiatan curhat-curhatan yang bersaudara dengan gosip-gosipan, sedarah dengan menangis dan kecengengan, sungguh! Itu tidak salah koq, hehe. Tapi percayalah, mendengar dan didengar lebih dari itu! Menangis itu hanya bagian cuil-il dari mendengar dan didengar. Tergantung kita mahu membawanya kemana. Anda harus percaya! Kita bisa didengar dan mendengar tanpa harus bergosip!

Eh, atu lagi, bukan hanya radio yang perlu didengerin. Tapi radio adalah satu bukti, bahwa kita butuh mendengar sekaligus ingin didengarkan. Maaf kalimat terakhir ditulis tanpa minta persetujuan anda.. hehe.

Jadi, berilah makan jiwa kita dengan menjadi pendengar yang baik. Sama seperti, berilah sesuatu jika ingin menerima. Ucapkanlah terima kasih jika ingin dihargai. Lakukan segala sesuatu lebih dulu sebelum kita ingin diperlakukan seperti itu. Betul.. betul.. betul. (ucapkan dengan cepat seperti Ipin mengcapkannya.. hehe)

Akuilah bahwa kita butuh didengarkan. Akuilah dengan cara yang baik. Akuilah dengan cara mendengarkan orang lain lebih dulu. Didengarkan bukan sebuah kelemahan.
Bila tidak ada yang mau mendengar kita, ingatlah! Setiap satu bunyi yang kita ucapkan malaikat pasti mencatat. Kalau kita merasa tidak ada yang mendengarkan kita, sungguh, suara hati kita pun masih diketahui isinya oleh Rabb kita. Begitulah, begitu sempurna ciptaanNya. Bahkan ketika kita merasa tidak butuh mengatakan sesuatu, secara otomatis Allah sudah mengetahui apa yang tersirat dalam hati kita. Begitu pedulinya Rabb kita dengan apa yang kita rasakan. Dan kalau sudah bagitu, maka doa-doalah yang akan memperdengarkan semua sesak itu. (Yakinlah, Allah pasti mendegar setiap keluh kita)

Setiap sesuatu adalah bunyi. Karena itu pertajamlah telinga batin kita, untuk kita juga. Banyak suara yang terdengar, tapi banyak juga maknanya yang hilang. Semua melalui telinga kita, tapi tidak semua harus nyumbat di sana. (pelajaran moral: pakailah cutton bud setiap hari..hehe)

Baiklah. Siaran saya sudah selesai. Selamat mendengarkan komposisi berikutnya! J

For my mom; mizz u, ampuni ananda... (sungguh tidak ada toleransi usia untuk didengarkan)
For my sisters; kita sedang sama2 butuh didengarkan. Keep fight! Keep istiqamah!
For my sob; terima kasih telah mengisi kekosongan ini
For all; (try to) luv u full!!!
For my self; semoga bisa menjadi pendengar yang di dengar juga.. (hehe)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar