Kamis, 07 Agustus 2008
game is over
Atau memang ia tak ingin menjauh
Atau aku yang tak rela lepaskannya??!
Kadang-kadang itu terasa begitu menyiksa
Sudahlah
Permainan ini sudah selsai bukan?
Kadang aku perlu untuk menghentakkan hati
Sekedar mengatakan padanya bahwa ini sudah berakhir
Aku perlu sering mengingatkan
Karena rasa itu terlalu membekas padanya
Permainan ini sudah berakhir, sudah berakhir,
Memulai dan mengakhiri dengan caraku sendiri
Sudah cukup larut untuk ku berduka
Sudah cukup waktu untukku menanti
Benderang ini menyilaukan
Ternyata hanya ada aku dan cahaya
Bebayang itu kadang masih berkelebat, nakal
Atau memang ia tak ingin menjauh
Atau aku yang tak rela lepaskannya??!
Dengarlah hati!
Permainan ini sudah ku akhiri
Aku masih perlu banyak berlatih
Untuk memenangkannya dengan seseorang yang lain
Sabtu, 26 Juli 2008
Ayam Penyet...
Bahan :
1/2 kg ayam yang berkulit
100 ml air
1/4 sdt merica bubuk
Minyak untuk menggoreng
Bumbu yang dihaluskan :
2 siung bawang putih
1/2 sdt garam
1/4 sdt ketumbar
Sedikit kunyit bubuk
Sambal :
1/4dt garam
1/2 sdt gula pasir
5 cabai rawit merah
Sedikit terasi
1/2 buah tomat
Campur ayam dengan bumbu halus, merica bubuk dan air. Masak dalam wajan tertutup sampai air habis. Dinginkan.
Ulek garam, terasi, gula dan cabai rawit merah, kemudian tambahkan potongan tomat,tekan-tekan supaya tomat agak hancur.
Goreng ayam dalam minyak panas sampai agak kering.
Panas-panas, taruh ayam dalam cobek, tekan dengan ulekan.
Hidangkan dengan nasi panas dan lalapan.
yummy....... selamat menikmati di rumah sendiri ya.. kalo susah bikinnya, beli aja, banyak koq rumah makan yang udah nyedian menu ini...
ini resep wis kutip dari sini ne: http://cuek.wordpress.com/2007/09/16/ayam-penyet/
tidak ada lagi spekulasi...
Tidak ada lagi spekulasi
Sudah boleh lah berlega hati
Semua telah tampak nyata
Apa yang dulu mengabur kini telah jelas bentuknya
Gambaran yang dulu buram telah terang warnanya
Apa lagi yang ku tunggu...
Musim akan berganti
Tapi pancaroba ini mungkin akan sedikit membuat demam
Seperti akan hujan tapi mentari juga enggan bersembunyi
Seperti akan luruh dedaunan begitulah angin memainkan pada dahannya yang rapuh
Luka ini akan menemukan sembuhnya
Tapi rasa sakit harus bersabar karena masa itu mungkin akan lama
Mengolesi salap-salap sabar
Menelan tablet-tablet penghilang rasa kecewa
Dalam beberapa kali sehari pertemuan yang menyesakkan
Tidak ada lagi spekulasi
Hati telah menjadi lega kini
Mungkin aku tertipu, oleh diri sendiri
Tapi tak mengapa
Toh aku jadi tau
Betapa menyakitkan luka ini
bergantilah musim
Mungkin aku belum bisa melupakan
Bagaimana mesranya embun mencumbu rerumputan pagi hari
Mungkin aku tidak bisa membuyarkan
Ceracau burung yang mengawali hiruk pikuk dunia
Atau pada dedaunan yang luruh dengan gemulai
Atau pada mentari yang tenggelam lebih cepat dari biasanya
Tapi musim akan berganti
Aku tak dapat memaksa keindahan ini terus ada
Aku tak dapat memiliki pergantiannya yang hakiki
Aku hanya bisa menikmati perputarannya yang terus seperti ini
Semusim, begitulah cara waktu menawan hatiku
Dan harus aku merelakan dingin ini memeluk hari yang pernah gelisah
Lalu butir-butir sejuk akan menutupi tanah hati yang hangat sebentar
Dan aku akan memilih untuk hanya menghangatkan diri dekat perapian
Musim akan berganti
Begitu cepat terasa waktu berlalu
Padahal rindu ini belum lagi kulepaskan
Kamis, 17 Juli 2008
ABU SULAIMAN AD-DARANI (Selayaknya Aku Menangis)
Kemudian aku bertanya, "Saudaraku, apa yang membuatmu menangis?"
Dia menjawab, "Wahai Ahmad, Ahlul mahabbah (orang-orang yang saling mencintai), jika hari menjelang malam, ia mulai membentangkan telapak kaki mereka (berdiri mengerjakan shalat), air mata mereka membasahi pipi pada saat ruku' dan sujud. Ketika itu Allah q menyaksikan mereka dan memanggil, 'Wahai Jibril, berdasarkan penglihatanku, siapakah yang sedang membaca firman-firmanKu dengan penuh kenikmatan itu dan kemudian istirahat untuk bermunajat kepadaKu? Sesungguhnya Aku mengawasi mereka, mendengar perkataan, keluhan, kerin-duan dan tangis mereka! Panggillah dan tanyakan kepada mereka, 'Mengapa mereka berputus asa sebagaimana yang Aku lihat, apakah telah datang seseorang kepada kalian yang menyampaikan berita bahwa seorang kekasih akan menyiksa kekasihnya dalam bara api? Jika perbuatan kejam seperti itu, tidak pantas dilakukan oleh seorang manusia yang hina terhadap kekasihnya, maka apakah layak sekiranya dilakukan oleh Allah Yang Maha memiliki segala sesuatu dan Mahamulia?! Maka demi kemuliaanKu, aku bersumpah, sungguh aku akan memberi hadiah kepada mereka, ketika menemuiku pada hari Kiamat kelak yakni akan aku singkapkan WajahKu yang mulia di ha-dapan mereka, aku melihat mereka, demikian pula mereka dapat memandangKu langsung.'
Wahai Ahmad, jika kejadiannya seperti itu, apakah engkau masih akan mencelaku ketika aku menangisi keterlambatanku dari rombongan Ahlul mahabbah tersebut?"
(SUMBER: 99 Kisah Orang Shalih, sebagai yang dinukil dari kitab al-Mawa'idh Wal Majalis, 239)
Broken vow...
I want to know
The way he looks
And where you go
I need to see his face
I need to understand
Why you and I came to an end
Tell me again
I want to hear
Who broke my faith in all these years
Who lays with you at night
When I'm here all alone
Remembering when I was your own
[Chorus:]
I let you go
I let you fly
Why do I keep on asking why
I let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow
Tell me the words I never said
Show me the tears you never shed
Give me the touch
That one you promised to be mine
Or has it vanished for all time
[Chorus]
I close my eyes
And dream of you and I
And then I realize
There's more to love than only bitterness and lies
I close my eyes
I'd give away my soul
To hold you once again
And never let this promise end
[Modified Chorus:]
I let you go
I let you fly
Now that I know I’m asking why
I let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow
Minggu, 29 Juni 2008
Haru Biru Ukasyah ra
Rasul berkata : ”Wahai para shahabat hari ini, aku tawarkan kepada kalian. Barangsiapa di antara kalian pernah aku sakiti. Maka sekaranglah saatnya kalian mengqishash diriku ( Membalasnya ) ”
Para sahabat hening, tak ada satupun yang mampu bersuara.... .
Rasul mengulangi lagi perkataannya ” Wahai shahabat, kalau kalian pernah merasa aku sakiti silahkan saatnya kalian membalasnya ”
Para sahabat makin tertunduk... menangislah mereka...mereka merasa sebentar lagi masa-masa indah bersama Rasul tercinta akan berakhir....
Untuk ketiga kalinya Rasulullah berkata ” Silahkan siapa yang mau mengqishas diriku ”......
Tiba-tiba muncullah Ukasah Ra.
“ Saya ya Rasul…..saya akan mengqishas Anda ya Rasulullah…..”
Umar langsung mencabut pedangnya sambil berkata “ Apa yang akan kamu lakukan wahai Ukasah…pedang Umar yang menebas kepalamu kalau engkau berani menyakiti Rosulullah “
Baginda yang agung tersenyum “ Biarkan Ukasah ya Umar………. “
Abu Bakar pun maju…sambil berkata “ Wahai Ukasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah “
Rasul pun melarang Abu Bakar membelanya.
Kemudian Ukasah berkata : ” Pada saat aku mengiringi engkau berperang cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul....”
Para sahabat terdiam menahan amarah...... ......... ..
akan tetapi rasul dengan tersenyum mempersilahkan Ukasah mengambil cambuknya.
Tidak cukup sampai di situ...Ukasah berkata : ”Ya rasul pada waktu cambukmu mengenai punggungku. Pada saat itu langsung mengenai kulit punggungku, karena tidak tertutup kain punggungku pada waktu itu. Untuk itu aku ingin punggungmu dibuka juga ya Rasulullah ”
Para sahabat makin geram dengan permintaan Ukasyah.
Rasul dengan tetap tersenyum sambil membuka kain yang dikenakannya.
Pada saat punggung baginda tercinta terbuka.
Maka seketika itu juga Ukasyah menubruk punggung Rasulullah, kemudian memeluk dan mencium punggung yang kemilau itu. Sambil menangis sesenggukan Ukasyah berkata ” Wahai Rasul Allah....maafkan aku.....aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuhmu untuk yang terakhir kali...dan Aku ingin tetap bersama-sama Engkau Ya Rasul sampai di akhirat kelak.
Dan rasul pun berkata ” Doamu Insya Allah dikabulkan Allah wahai Ukasyah ”
