Chocolate Covered Sesame Balls

Minggu, 04 Januari 2015

Musim Dingin yang Kunanti

Aku masih seperti dahulu
hanya saja hawa udara kadang terasa lebih dingin dari biasa
dan aku jadi merasa tak patut untuk berbagi rasa dengan sesiapa

Rasa-rasanya aku memilih diluar bersama angin musim dingin
sekedar membuktikan bahwa ia masih lebih beku dari hati ini

Bukankah engkau yang mengatakan;
bahwa dirimu bukan milik sesiapun?
karenanya aku tak merasa perlu mengikatmu dengan posesivitas bentuk apapun
walaupun dengan demikian sesungguhnya aku menjadi khawatir kita menjadi lupa hakikat ini

Dan sungguh itu akan menjadi waktu yang aku nanti
sekalipun jelmaan awan yang engkau maksud tak pernah kulihat sebelumnya
juga aku tak pernah tahu pada musim dingin keberapa
rinainya akan jatuh menghujaniku



------------------------

Minggu, January 4 2015

------------------------

bait-bait di atas muncul spontan aja pas nge-reply twitnya @SapardiDjoko_ID (Sapardi Djoko Damono).

Karena twitter cuma menyediakan 14 karakter untuk sharing, jadinya terpaksa setelah tweet di quote harus di screen-capture trus baru kirim lagi ke twtter, hihihihi, maksa banget.. but eniwei merasa enakan karena udah lama banget ga nulis yang beginian :)

Saya coba search di Google puisi ini namun saya tidak menemukan puisi utuh sesuai bait-bait tersebut. Nampaknya memang empat bait itu adalah potongan dari beberapa puisi Sapardi DD. Saya baru menyadari bahwa ini ada adalah potongan-potongan bait setelah membaca tweet ke-4 yang paling familiar buat saya (3 yang pertama baru pertama kali saya baca). Berikut potongan bait-bait itu :

1. Kau bukan lagi seorang yang dengan mudah terpesona oleh langit yang mempermainkan warna-warna bunga. (dari sajak Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?)

2. Tentu kau boleh saja masuk. Mengalir di sela butir darahku, keluar masuk dinding jantungku, menyapa setiap sel tubuhku. (dari puisi Tentu. Kau Boleh)

3. Ketika hari tiba dan mengambil segala yang kauyakini milikmu, kau memang tak merasa perlu tahu bahwa aku bukan bagianmu. (dari sajak Surah Penghujam; 1-24 *bagian dari ayat ke-3)

4. Aku akan menjelma awan hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu. Pada suatu hari baik nanti. (dari puisi Seperti Kabut)

Sabtu, 03 Januari 2015

Something Lost when Something Gain

Doremon Stand by Me; sebuah review acak adut

Sekitar semingguan yang lalu saya kebagian download-an film yang ditunggu-tunggu ini. Semasa kecil kenyang nontong serialnya di RCTI, dan sampai sekarang pun masih histeria kalo liat sosok Doremon dalam berbagai bentuk, apakah itu boneka, gelas, atau peralatan tulis menulis anak-anak bergambar karakter robot kucing unyu-unyu sepanjang masa ini.

Walaupun semakin banyak kartun bermunculan masa itu, Doremon tetap tak tergantikan. Setelat-telatnya bangun di hari minggu pagi tetap yang diingat Doremon dulu, setelah itu baru nasi goreng buatan mamak. Malahan saya ingat banget waktu itu Mamak bangunin saya yang ga bangun-bangun dengan modus ‘nanti Doremonnya kelewatan’ :D. Bahkan menjelang saya selesai kuliah kalau saya pulang kampung liburan semesteran atau lebaran dan kebetulan ketemu hari minggu Mamak masih suka ngingetin ‘Ga nonton Doremon, dek Wis..?’ sambil kemudian berlalu lagi dalam kesibukannya.

 Tahun-tahun pertama jadi anak kos saya masih sempat nonton Doremon ,karena kebetulan waktu itu kami indekos di rumah family yang kebetulan punya usaha kos-kosa-an. Tiap minggu pagi saya sudah stand by depan tv sama anak-anaknya (sepupu-sepupu jauh saya) yang waktu itu usianya masih balita hahaha. Anehnya kami jadi nyambung kalo lagi nonton bareng gitu. Menganga bareng lalu ketawa bareng-bareng menikmati ke-konyolan Nobita. Naik kelas 3 SMU kami pindah kos dan semenjak itu hampir tidak pernah nonton tv jadinya saya sudah tidak ngikutin lagi jadwal acara tv favorit termasuk salah satunnya kartun Doremon.

Terkadang beberapa waktu di hari minggu (dalam keadaan tanpa tv) pas liat jam yang kebetulan nunjukin pukul 8.30 dan suddenly terlintas di benak saya ‘Doremonnya udah selesai L’.  Sebegitu kuatnya ikatan batin antara saya dengan kartun Doremon sampai-sampai ketika kartun itu menyudahi tayangannya di layar kaca pun hati saya ikut bergetar, hahahahaha #lebai.

Kartun Doremon dalam bentuk film panjang atau dikenal dengan Doremon Petualangan sebenarnya sudah banyak juga diputar di tv Indonesia, versi pertama dibuat antara tahun 1980 s/d 2000 dan versi yang lebih baru dibuat setelah tahun 2000, termasuk salah satunya adalah Doremon Stand By Me yang dibuat dengan animasi sekelas film animasi buatan Pixar dan Dreamworks (red. Cth animasi buatan Pixar; Despicable Me) 

Tapi film kali ini memang berbeda, apalagi begitu dengar judulnya ada naga-naga semacam Doremon hendak pergi meninggalkan Nobita L. So, sebagai pecinta robot kucing ini saya jadi merasa wajib nonton! Sekalipun ini cuma film kartun, yang mana tokohnya adalah fiktif, karakter-karakter di dalamnya juga fiktif, tapi koq Doremon ninggalin Nobita itu rasanya semacam Doremon ninggalin saya juga, huaaaaaaa.

Walaupun jarang ketinggalan kartun ini semasa kecil, tapi aslinya saya tidak pernah baca komik Doremon dari nomor 1 sampai nomor sekian itu, tidak pernah.  Setelah search sana-sini baru tahu ternyata aksi Doremon meniggalkan Nobita dalam Doremon Stand By Me adalah cuplikan dari salah satu bagian komiknya (tentu saja K). Sejujurnya, film ini cukup membuat kecele orang-orang semacam saya, yaitu yang cuma nonton serial tv-nya tanpa pernah baca komiknya *blushing deh.. hehehe.

Beberapa hal menakjubkan (include pelajaran morel) di film Doremon Stand By Me menurut saya diantaranya :

1.       Nobita menemukan titik balik kehidupannya.
Bila pada serial kartunnya kita setiap hari minggu hanya disuguhi cerita-cerita pendek yang fokus pada aneka peralatan ajaib yang bisa dikeluarkan Doremon dan pada kemalasan dan keluguan sifat Nobita, pada film ini kedua hal tersebut memang tetap muncul bahkan kekonyolan Nobita tergambar lebih jelas di sini (hehehe, peace :D). Namun pada serial kartunnya kita tidak akan pernah menemukan moment Nobita menemukan titik balik dalam hidupnya, yaitu ketika Nobita merasa tidak ingin lagi mendapat nilai nol pada ujian berikutnya, tidak pantas untuk hidup bersama Shizuka, merasa sangat terpuruk dengan dirinya sendiri



By the way, walaupun pengakuan Nobita ‘Aku tak tahan dengan diriku lagi’ terasa sangat menyedihkan tapi karena ini cerita kanak-kanak terasa sangat menggelikan mendengar anak SD kelas 5 mengatakan hal semacam ini :D. Dan ada banya hal konyol lain yang dikatakan Nobita dalam filmnya namun sejatinya itu memiliki makna yang dalam dan patut direnungkan *halagh :P


 

  
2.       Dubber dan karakter yang benar-benar hidup.
Entah mungkin karena saya sangat menyukai sosok Nobita dan Doremon, saya jatuh cinta dengan dubbing kedua karakter ini dalam Doremon Stand By Me. Suaranya benar-benar cocok dengan karakter mereka. Tsah!

Percakapan mereka bisa kamu dengar langsung di teaser-teaser berikut :


Gambar-gambar yang hidup itu sudah tentu karena produksinya yang memang sudah lebih bagus dari animasi film-film Doremon yang sebelumnya (kan tadi saya udah bilang, wweek!).

3.       Kita tidak bisa selalu memudahkan orang lain dengan hanya mengatakan atau melakukan hal-hal yang disukainya.
Doremon sebagai robot yang diprogram untuk membahagiakan Nobita melakukan apapun untuk membuat Nobita senang. Kantong ajaib Doremon bisa mengeluarkan apa saja sesuai dengan kebutuhan Nobita. Namun pada akhirnya Nobita menemukan sendiri jalannya. Dari sini tentu jelas bahwa walaupun robot itu adalah ciptaan super canggih namun manusia tetap ciptaan yang lebih canggih dari itu. Nobita yang pada akhirnya memutuskan untuk melakukan apapun dengan usahanya sendiri. Film ini juga mengingatkan kita kembali bahwa hanya diri kita sendirilah yang dapat mengubah nasib diri di masa depan.

4.       Percayalah kita tidak perlu datang ke ‘masa depan’ untuk mengubah nasib :P.
Salah satu hal mustahil (dan menurut saya super tidak adil L) adalah karena Nobita diberi kesempatan untuk melihat kejadian dirinya di masa depan. Salah satunya yaitu ketika Nobita memaksa Doremon memberinya kesempatan menyelamatkan Shizuka dewasa di padang salju. Walaupun Doremon sudah mengatakan bahwa kedatangannya ke masa depan dapat saja membuat takdir menjadi berbeda, namun Nobita tetap ngotot.


 


Nanti di masa depan ada percakapan antara Nobita dewasa beneran vs Nobita dewasa yang datang dari masa lalu yaitu dimana Nobita dewa beneran berterima kasih kepada Nobita dewasa dari masa lalu karena telah mempercayainya (aih ribetnya para Nobita ini L).

Intinya sih, harus percaya dengan kemampuan diri sendiri untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa J.

5.       Kebaikan hati yang terpenting dari apapun juga *ecie




Begitulah, Nobita itu walaupun cuma bisa demam-demam aja tapi karena baik hati, ikhlas, suka menolong, dan empati sama orang makanya bisa beruntung kemudian jodoh dengan Shizuka.. :D. Simpelnya tentu ga begitu juga mungkin ya. Walaupun realita di dunia nyata ‘orang baik’ itu malah tersisih dan kurang beruntung, namun film ini tetap menyisipkan pesan bahwa kebaikan diri tetaplah yang utama untuk mendapatkan everlasting luckies, agree!


Ketika menulis ini saya terpaksa menonton Doremon Stand By Me untuk yang ketiga kalinya, dan untuk kesekian kalinya saya menangissss, hiks..

Bagian akhir cerita ini sangat mengharukan, nanti kalo semua dicerikan disini jadi ga asik nontonya :D. Semoga film originalnya segera ada di Aceh yaa, jadi kita semua bisa segera nonton dan nostalgia hehehe.

Well, 2:50 on January 2 2015, good night sleep tight, have a nice long weekend J.

Sumber-sumber :


Jumat, 28 Maret 2014

Si Uroe Breuh

Jadi pada suatu siang bolong beberapa hari yang lalu saya memang harus ke bank untuk nitipin giro. Sepulangnya saya ambil jalan pintas dari jalan tepi kali sungai Lamnyong itu. Mendekati persimpangan empat tembus Alue Naga, biasanya disitu banyak nyak-nyak yang jualan tiram dan kepiting. Sejak beberapa hari lalu memang mau beli tiram, kak Atik katanya pengen tiram masak Aceh. Tapi karena dalam minggu kemarin hampir full lembur audit keseringan pulangnya kesore-an kadang kemalaman jadi beli tiramnya pending melulu..

Maka sepulang dari bank hari itu saya paksakan diri stop di depan salah satu lapak jualan tiram yang ada di sekitar sana.

Saya mulai bertransaksi dengan si ibu penjual tiram. Tanya harga, saya juga tanya kenapa tiramnya besar-besar begini. Eh si ibu malah bilang kalau itu yang paling kecil, biasanya lebih besar dari itu.. ketauan deh jarang beli tiram.. *tengsin

Selang setengah menit terdengar suara ramai dari arah jalan Laksamana Malahayati. Saya ga begitu tertarik memperhatikan, masih lebih menarik menimbang-nimbang bungkus tiram yang akan saya bawa pulang. Sampai si Ibu bertanya sama saya;

Ibu penjual tiram: neuk, nyan pu partai nyan neuk bendera lage nyan..? (Nak, itu partai apa namanya yang benderanya seperti itu?). Rasa ingin tau mengerutkan keningnya lebih rapat, menimpa-nimpa keriput yang lebam dibakar matahari.

Saya menoleh ke arah jalan yang dimaksud. Separade kendaraan sedang lewat. Badan kendaraan penuh bendera, orang-orangnya di atasnya juga melambai-lambaikan bendera yang sama. Biru. Sebenarnya saya agak sangsi itu bendera partai apa yang punya, lambai-an angin yang lumayan kencang membuat gambarnya sulit dikenali. Saya menyebut salah satu nama partai yang agaknya diwakilkan oleh bendera tersebut. Ibu itu diam tidak menimpali apa-apa. Matanya masih memperhatikan parade kendaraan yang syukurnya ga terlalu panjang itu.

Ibu penjual tiram: kop lee ka awaknyan, hana meu ta turi pileh pih le (sudah banyak sekali sekarang partai-partai, ga tau kita mau pilih siapa lagi).

Saya iseng bertanya; nanti ibu pilih siapa bu..? Tanggal 9 kan bu hari pemilihannya. Saya memilih dua bungkus tiram yang harganya masing-masing 10 ribu rupiah.

Ibu penjual tiram; hom hai neuk, adak tajak tak chob nyan hana sit jibri peng meu siploh ribee pih, adakna kajeut ta blo breuh keu si uroe. ( Entahlah nak, sekalipun kita datang untuk mencoblos enggak juga dikasih duit walaupun cuma sepuluh ribu, kalau lah ada lumayan juga bisa untuk beli beras sehari).

Saya speechless. Dalam seperskian detik itu saya mikir harus jawab apa. Kasian sekali ibu ini hanya berharap sebambu beras dari sehari pencoblosan itu. Agaknya tak paham dia bahwa lima tahun kedepan kita semua dapat lebih sengsara hanya karena salah coblos di beberapa detik itu. Mereka yang berpikirnya sederhana, memenuhi kehidupan dari hari ini ke hari esok. Mereka tidak sempat bahkan mungkin tidak mengerti untuk memikirkan nasibnya lima tahun kedepan.

Saya tidak menemukan jawaban yang tepat. Semua tersekat dikerongkongan. Tetiba saya berpikir untuk menyarankan partai yang nantinya akan saya coblos, tapi urung karena orang-orang yang 'selling' itu biasanya pasti bawa merchandise sekalipun cuma selembar kalender. Saya juga mau rasanya bilang kalo ibu itu harus tetap nyoblos karena pilihan sehari itu ampuhnya sampe 5 tahun, tp ga jadi karena saya terpikir siapa nanti yang akan anterin beras sebambu ke rumahnya sebagai kompensasi ibu itu tidak bisa mencari tiram karena harus ngantri di TPS..

Sembari memasukkan bungkusan tiram yang saya beli ke dalam kresekan bekas ibu itu masih berkomentar patah-patah soal 'coblosan', dan sampai menit kesekian saya masih bungkam, menyembunyikan- lebih tepatnya tidak tau saya bagaimana caranya menyampaikan apa yang seharusnya ibu itu ketahui sebatas pengetahuan saya yang cetek soal 'memilih' ini..

Si Ibu menyerahkan uang kembalian saya. Bisa saja sebenarnya saya bilang "bu, ambil aja kembaliannya gpp. Ibu nanti hari pemilihan nyoblos ya bu ya, bla bla bla.." tapi entah kenapa saya juga tidak melakukan itu.

Saya pamit, dan perbincangan singkat siang itu dengan ibu penjual tiram menyisakan kelebat yang menggalaukan pikiran.

Setiap saya melewati lapak ibu penjual tiram itu ada rasa bersalah, rasa-rasa saya ingin mampir untuj sekedar menejelaskan apa yang saya tau. Tp saya tidak punya cukup nyali bahkan untuk melakukan hal sederhana begitu.

Semoga kita Dianugerahi pemimpin-pemimpin seperti Umar.. aamiin.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Belakangan hari-hari di kantor rasanya super penat. Kadang pagi-pagi baru nyampe udah langsung pengen pulang aja. Rasamya waktu lambt banget berlalu. Jenuh. Seruangan rasanya sama berantakan dengan isi kepala ini, ga tau mau dibenahin dari mana dulu. Dan seperti biasa, tadi sebelum pulang saya sempetin update to do list yang ga kepegang setengah bulan-an ini. Seringnya itu efektif untuk mengawali pekan-pekan yang super crowded baik dalam keadaan 'full energy' atau dalam keadaan sebaliknya, seperti sekarang ini.

Mana lagi beberapa hari lalu audit baru saja selesai "menyapu" di sini, hasilnya? Semacam punishment yang tak enak untuk diperbincangkan. Well, hasilnya jeblok dari audit sebelumnya. Terlalu banyak yang berantakan. Setidaknya jadi tau kan hal-hal yang mesti lebih teliti lagi.

Well, bulan Maret hari ke 28 pukul 00:54.. belum bisa tidur padahal udah mengantuk. Kak Atik masih buat tugas di sebelah, biasalah anak kuliah hobi banget begadang kejar deadline tugas kampus.. :P

Selamat istirahat semua, semoga akhir pekan yang panjang di depan efektif untuk charging energi kita semua.. :)

Salam.

- we often felt unlucky, outside there more people forget how to feel lucky they forget to complain their life they busy living days to days life..-

Kamis, 13 Februari 2014

Sunset on My Cam
































maap kalo ada yang terupload dua kali :P
itu capture nya pake kamera hape biasa, hehehe.
sunset paling bagus itu di Lampuuk, Alue Naga, n kadang di Ulee Lheu.

sekarang lagi musim bagus2nya sunset, tiap hari itu ada aja yang beda n bikin takjub. Memang ciptaan Allah itu luar biasa indahnya ya.

------------------ 

"sometime i hope never say that hello. never share that comment. never read thing bout you. i dont understand this kind of chemistry"

bagaimana pun saya ini hanya perempuan biasa, yang dapat jatuh cinta dan patah hati. 




Jumat, 27 Desember 2013

Identitas Selera

Identitas Selera. Yah, apa pun lah istilahnya. Jadi ini semacam sesuatu yang menunjukkan keunikan diri kita. Sangat berbeda antara satu orang dengan orang lain. Mungkin kita juga menemukan sejumlah orang yang punya selera yang mirip-mirip. Coba aja lihat banyak barang-barang itu diproduksi dalam jumlah banyak dan dibeli oleh orang-orang berbeda. Sepatu, baju, dan banyak lainnya -_- (malas mikir). Dan itu tentu ga terlepas dari kita pembeli yang hanya bisa memilih apa yang sudah disediakan. Kalo mau yang beda, bikin aja sendiri. Contoh, baju-baju bisa di desain modelnya seperti yang kita suka. Ada sepatu-sepatu yang bisa kita lukis. Juga ada jam-jam tangan yang bisa dikustomisasi sesuai yang kita mau. Tapi biasanya itu akan butuh biaya dan waktu yang lebih banyak. Jadi mending ke pasar, tinggal pilih, bayar dan pakai. Sekalipun yang kita beli itu tidak 100 persen sesuai selera,setidaknya juga ga terlalu nabrak-nabraklah dengan dengan ‘kepribadian’ kita.
Sebagai orang yang seleranya biasa-biasa aja, ini terasa sedikit istimewa buat saya. Jadi setiap ngawanin temen atau keluarga cari ini itu, pikiran jadi langsung aktif dengan keadaan ini (kae nya semua orang gitu deh wis, K)

Pernah dulu jalan ke Hermes Mall sama DIla. Kita ngelewatin satu-satu pajangan baju sambil membolak-balik beberapa yang menarik mata seolah-olah beneran mau beli. Sampe ke salah satu pajangan dekat jaket-jaketan. Sebenarnya ga niat beli-beli sih, cuma mau cuci mata aja. Tapi berhubung ada promo ‘beli 1 gratis 1’, dan kebetulan pula ada motif yang kita cocok, ya udah deh beli. Awalnya DIla sih yang ngomporin untuk beli. Katanya “eh Wis, ini bagus loh motifnya”. Saya membolak-balik yang dilihat Dila. “Eh, beli 1 gratis 1 pulak, hehehe”, tambah Dila. Dila pun memaksa saya menemukan satu baju lagi yang ada dalam satu pajangan supaya kami bisa membawa pulang baju-baju itu dengan harga yang lebih hemat. Pilihan Dila adalah blus tanggung bunga-bunga lengannya tiga perempat, hampir mirip batik, tapi bukan batik. Setelah saya menemukan yang cocok kami pun ke ruang ganti. Dila terlihat makin sumringah di depan cermin ruang ganti, yang mana berarti baju-baju itu harus kami bayar supaya bisa kami bawa pulang. DIla bahkan menambahkan komentar “Eh, bagus itu sama Wis. Cocok. Pas ukurannya..blah..blah..blah”. Sampe sekarang kalo ke Hermes Mall dan melewati pajangan ‘beli 1 gratis 1’ pasti jadi ingat Dila. Tapi yang lebih mengingatkan adalah pilihan motifnya. Jadi sepanjang pajangan yang kami lewati, hamper semua pajangan blus bunga-bunga tanggung di colek sama Dila, selain itu juga blus di atas lutut yang ada tali pinggangnya.

Kesempatan yang lain, masih setingan Hermes Mall, saya diajak temen serumah untuk nyari sepatu. Sepatu yang kayak apa? Tanya saya sebelum kami berangkat. “Em, sepatunya untuk dipake kuliah sih Wis. Em, tapi bisa juga sekali-sekali dipake kalo kak Atik balik Sabang n ngajar, gitu kata kak Atik. Sekalipun deskripsinya sudah jelas, yaitu sepatu yang 85 persen dipake untuk pergi kuliah, dan bisa dipake juga untuk mengajar, teutep aja kita akan melewati stand-stand sepatu dari ujung sampe ujung lagi. Padahal udah hafal banget kalo stand paling muka Itu semua highheels dan wedges yang mana selain tidak cocok untuk kuliah (menurut saya) juga tidak kompatibel dengan kak Atik yang seleranya sepertinya sudah bisa saya baca itu. Maka akhirnya kami berkeliling. Kepada saya, Kak Atik menunjuk satu persatu sepatu yang naga-naganya mau dibeli, ‘yang ini? Yang ini?.. yang ini?’, eh ini yang mau pake siapa sih sebenarnya? Hehehehe. Dari semua sepatu yang ditunjuk kak Atik, saya semakin memahami jenis yang disukai kak Atik (eciee). Trus saya pun mulai komentar, “kayaknya mendingan  yang ini deh kak, karena.. blah..blah..blah”. Setelah mengerutkan kening kak Atik pun setuju, katanya ‘hmm, Iya ya?’. Akhirnya kak Atik membeli sepatu yang saya rekomendasikan itu. Yaitu sepatu yang bisa dipake kuliah dan sekali-kali mengajar, dan lebih dewasa menurut saya, hahahahahaha.

Jika perjalanan mencari sepatu tadi diputar ulang, saya jadi ‘ngeh’ dengan selera sepatu kak Atik ini. Seleranya sangat ‘imut’, yang mana kalau menurut saya itu sepatu-sepatu yang modelnya banyak dipake anak-anak yang masih imut umurnya :D.

Perjalanan yang lain adalah ketika kami mengunjungi Plaza Suzuya yang baru buka di kawasan Seutui. Niatnya Cuma mau lihat-lihat dan beli deodorant (heboh banget mau beli deodorant aja ke Suzuya K). Waktu itu kami pergi bertiga, saya- kak Atik- Hera. Seperti biasa, yang paling menarik untuk dijadikan deterjen pencuci mata adalah pajangan-pajangan baju dan sepatu, maka kami pun ke lantai tiga. Setelah mutar sana sini kami pun sampai di bagian per-sepatu-an. ‘Eh, ini manis, lucuk’, kata Hera. Saya menoleh. ‘Warnanya juga cocok sama tas Wiwis’, tambah kak Atik. Saya pun mengetes sepatu itu di kaki, pas pula ukurannya. Saya lepas dan saya pandangi sekali lagi semacam untuk menemukan sesuatu, semacam persetujuan untuk membelinya atau tidak. Warnanya memang cocok dengan tas saya itu, tapi saya belum pernah pake model begini sebelumnya. Memang sih di kaki terasa nyaman, sekalipun itu ‘bukan saya’, tapi dalam beberapa mili detik itu saya juga tau bahwa ini tidak akan kelihatan aneh di kaki saya. ‘Hm, enggak deh’, kata saya serta merta menaruh kembali sepatu itu dan berlalu ke pajangan di sebelahnya. Ketika saya sedang melihat-lihat pajangan sebelah, saya ga sengaja melihat ke sebelah, ternyata Hera sedang mengetes sepatu yang tadi. Hehehehe, iya memang, sepatu itu ‘Hera Banget’, :D.

Ya begitulah, kemana pun kita pergi mencari, yang menawan mata tetap yang ‘sudah di hati’ :D. Tapi tentu saja ga ada salahnya juga membuka selera pada bentuk-bentuk baru, karena dengan berbeda dari biasanya (selama ga geser-geser banget :D) kadang itu bikin kita kelihatan lebih fresh, ga hanya tampilan luar, tapi juga ‘perasaan baru’ karena mencoba sesuatu yang baru dari segi selera. Selama masih syar’i ga apa-apa kan ya? J

Pernah juga sih saya beli sesuatu yang beda banget dengan apa yang biasa saya beli, setelah pakai sekali langsung masuk lemari dan ga pernah keluar lagi, ga terpakai :D. Hal-hal semacam itu kadang memang terjadi.

Well, apa pun identitas seleramu, pastikan itu tetap syar’i ;)

Rabu, 25 Desember 2013

Audit Dibungkus

Gw lupa waktu itu hari keberapa audit di kantor. Biasanya kalo ada tamu dari pusat, kemana-mana itu dianterin Pak Bos. Mulai dari pulang pergi hotel-kantor, sampe cari makan siang bahkan jalan-jalan (jika ada). Tapi hari itu kebtulan ada dua tamu lain juga dari kantor pusat, maka Pak Bos pun tak bisa standby untuk anterin auditornya kemana-manah. Menjelang siang, percakapan via telepon gw dengan Pak Bos :

Pak Bos : Halo Wis
Saya : Iya, Pak
Pak Bos : Aku ga bisa balik kantor kayaknya ini
Saya : Trus? Auditnya ini mau makan siang, sama siapa? *garuk-garuk kepala*. Apa dibungkus aja ya pak?
Pak Bos : Hah? Audit dibungkus?? Emang bisa? hahahahaha..
Saya : Eh bukan, Pak. Maksudnya, makan siangnya beli bungkus, gitu *garuk-garuk meja*
Pak Bos : Iya boleh juga dibungkus ntar langsung kirim balik Surabaya, hahahaha
Saya : Iya, Pak. Kirimnya pake kontainer yang balik aja jadi sekalian hemat biaya *-_- terserah bapak lah*

:|


Kp. Jawa
Lagi nunggu respon Mba Nuke for Herbalife order

Minggu, 17 November 2013

tak bertepi

Enggan bercermin karena kita khawatir melihat wajah rasa yang tidak sesuai harapan hati. Takutkah kita pada sanubari yang bertepuk sebelah. Dan membiarkan semuanya bergulung dan menebal sambil terus digerus malam, tak menjadi apa-apa.. Karena kita terlalu khawatir akan jawabannya, tidak seperti yang kita inginkan.

Lalu coba katakan, apakah yang sudah kita temukan dari waktu yang bergulir setiap hari?

Esok pagi semua akan membuyar, hanya karena terlalu banyak hal yang harus selesai. Bukan, bukan karena kita tak ingin, kita hanya tak begitu yakin, karena memasuki nya semacam memulai terowongan asing yang belum pernah kita lewati..

Begitulah seterusnya, kita terus berlayar seolah menjadi semakin hebat, semakin jauh, semakin dekat pada apa yang kita tuju.. Padahal mungkin kita tidak mendekati apa-apa.. Semakin asing, tak kunjung menepi.



Nop 17
------

Sent from BlackBerry® on 3