Enggan bercermin karena kita khawatir melihat wajah rasa yang tidak sesuai harapan hati. Takutkah kita pada sanubari yang bertepuk sebelah. Dan membiarkan semuanya bergulung dan menebal sambil terus digerus malam, tak menjadi apa-apa.. Karena kita terlalu khawatir akan jawabannya, tidak seperti yang kita inginkan.
Lalu coba katakan, apakah yang sudah kita temukan dari waktu yang bergulir setiap hari?
Esok pagi semua akan membuyar, hanya karena terlalu banyak hal yang harus selesai. Bukan, bukan karena kita tak ingin, kita hanya tak begitu yakin, karena memasuki nya semacam memulai terowongan asing yang belum pernah kita lewati..
Begitulah seterusnya, kita terus berlayar seolah menjadi semakin hebat, semakin jauh, semakin dekat pada apa yang kita tuju.. Padahal mungkin kita tidak mendekati apa-apa.. Semakin asing, tak kunjung menepi.
Nop 17
------
Sent from BlackBerry® on 3
Minggu, 17 November 2013
Senin, 11 November 2013
antara aku dan engkau
Yang seberapa dekat pun aku menjemput, keindahannya hanya ada dalam mata ini, tak dapat aku menyentuhnya.
Menatapnya setiap hari, supaya aku dapat mengumpul keping-keping indah tentangnya, potret mengagumkan setiap sore, bagian-bagian yang ingin ku rekat satu-satu, supaya nanti utuh adanya di dalam sini, sekalipun mata ini tak dapat lagi memandanginya.
Jika aku mengaguminya dan orang lain tidak, Itu pun aku tak mengerti
Pancarannya seperti ketulusan yang tak pernah kenyang memberi, memupus kecewa-kecewa pada harapan yang tak sesuai perkiraan. Semakin menjadi-jadi indahnya semakin magrib menyusul senja
Begitulah antara aku dan engkau, semburat yang memancar hingga pepasir yang kupijaki, jam-jam biru yang rasa-rasa ingin kubawa pulang..
Kp. Jawa
Muharram 8,
Sent from BlackBerry® on 3
Menatapnya setiap hari, supaya aku dapat mengumpul keping-keping indah tentangnya, potret mengagumkan setiap sore, bagian-bagian yang ingin ku rekat satu-satu, supaya nanti utuh adanya di dalam sini, sekalipun mata ini tak dapat lagi memandanginya.
Jika aku mengaguminya dan orang lain tidak, Itu pun aku tak mengerti
Pancarannya seperti ketulusan yang tak pernah kenyang memberi, memupus kecewa-kecewa pada harapan yang tak sesuai perkiraan. Semakin menjadi-jadi indahnya semakin magrib menyusul senja
Begitulah antara aku dan engkau, semburat yang memancar hingga pepasir yang kupijaki, jam-jam biru yang rasa-rasa ingin kubawa pulang..
Kp. Jawa
Muharram 8,
Sent from BlackBerry® on 3
Kamis, 31 Oktober 2013
Selasa, 29 Oktober 2013
Apakah Ayah juga suka minum kopi? :D
Satu hal yang paling ku kenang tentang Ayah adalah gambar ku usia 1 tahun difoto diatas meja makan, itu pun wajah ayah hanya kelihatan separuh, padahal itu satu-satunya foto berwarna yang ada Ayah di dalamnya.
Jika Ayah masih ada, aku ingin tau Ayah bakalan nyoblos partai apa ketika pemilu. Karena semasa Ayah agaknya per-partai-an itu sama sekali tidak mashur. Yang penting orang pergi pagi mencari rizki lalu pulang menghidupi kami, sudah sampai disitu. Sekarang pun setelah partai banyak, tak banyak juga pengaruhnya dlm pe-rizki-an manusia. Sampe-sampe banyak yang memilih golput karena toh pilih tak pilih nasib mereka tak berubah, dr tahun ke tahun sama saja. Makanya mungkin ya banyak masyarakat y terbeli suaranya dengan 'iming'2 sesaat, dikasi 100-200ribu, atw 5kilo minyak makan, atw 2kilo gula+3kilo beras, setidaknya itu cukup utk bekal beberapa hari. Dari pada memilih ini atau anu juga toh sama sama ga dapat apa-apa juga.. Etapi, ini kita mau membicarakan Ayahku, bukan soal pergolputan.. :d
Ayah, aku rindu padanya, sekalipun tak ada memoriku yang sempat menyimpan kenangan dengannya. Andai Ayah masih ada, aku ingin tau bagaimana sikap Ayah tentang pemberitaan kisruh di Mesir sana, tentang Palestina, tentang pengungsi Rohingya, yang bahkan sempat terdampar di desa tetangga kita Cot Trueng beberapa waktu lalu, apakah Ayah akan melakukan sesuatu untuk mereka??
Aku ingin tau apakah Ayah suka nonton bola? Team jagoan Ayah siapa? Ayah pasti menontonnya dengan Abang di rumah kan, bukan di warung kopi. Apakah Ayah akan ngomel-ngomel kalau menemukanku asik nonton kartun Doremon setiap wiken setiap aku pulang kampung di masa liburku? Apakah Ayah akan bawel jika krn itu aku sampai lalai membantu ibu menyiapkan sarapan hari minggu kita, yaitu nasi goreng telur dadar dan teh manis..
Apakah Ayah suka minum kopi seperti aku? Ayah suka kopi aja atau kopi susu? Atw malah mungkin Ayah suka kopi tubruk.. Hehehehe. Kita mestinya bisa saling ngobrol soal kopi Aceh yang mendunia dan jadi bahan baku Starbuck itu, pasti seru.. Kalo ada kopi festival, aku ingin Ayah ikut ke Banda Aceh, supaya aku bisa mengamit lengan Ayah dan berkeliling mencicipi satu satu produk kopi produsen lokal kita..

Jika Ayah ada, apakah ayah akan memaksaku kuliah di kedokteran, mengambil jurusan perawat seperti Ayah, atau jurusan hukum? aku ingin tahu apakah Ayah bangga sekalipun aku hanya lulusan Matematika, aku tak jadi ilmuwan, tak seperti dititis akademikku. Apakah Ayah akan marah dan malu karena studiku selesai di tahun terakhir..? Dan IPK ku hanya di bawah 3.. Tidak membanggakan, susah pula kalo mau mengajukan beasiswa kuliah keluar negeri..

Ada beberapa lagu yang kudengar dari radio semasa SD, kata ibu; itu lagu2 kesukaan Ayah. Ternyata selera musik Ayah lumayan juga yaa, sama seperti anaknya.. Hehehe :P. Jika ibu suka lagu-lagu melayu P.Ramlee, Ayah agak sedikit rock n roll n jazzy..
Kata ibu di awal-awal pernikahan, Ayah kadang telat juga sholat subuhnya. Hah?? Iya, waktu itu aku juga kaget, bahwa ternyata orang tua kita juga tidaklah sempurna dari sana nya. Di masa muda mereka barangkali ada lalai-lalainya. Tapi tentu itu bukan lah alasan untuk kita mengikut seperti itu juga.. Aku kaget, dan kemudian tertawa, kataku: waaa, ternyata Ayah badung juga ya waktu mudanya.. :D (*dalam bahasa Aceh ;)).
Ayah, jika Engkau masih ada, aku ingin bertanya kepadamu tentang lelaki-lelaki yang baik itu seperti apa? Sekalipun agama telah merincikan semua dan dapat kubaca sendiri adanya. Aku ingin tahu ketika aku jatuh cinta apakah Ayah akan menanyaiku? Apakah Ayah akan ingin tau? Apakah ketika aku 'terluka' aku dapat menangis di bahu Ayah? Oya, kata ibu, semasa muda Ayah banyak idolanya.. :P
Ayah, aku rindu. Cerita-cerita ibu tentangmu seperti coretan buku gambar penuh warna.
Ayah terima kasih, 'bekal'mu kepada Ibu tak terkira. Ibu yang mencintaimu setelah pernikahannya telah mendidik kami dengan kasih dan tegarnya.. Betapa berat hari-hari nya tanpamu, kami baca itu dari rautnya y semakin tua dan lelah..
Ayah, sungguh semua pengandai-an ini tidaklah berguna, pada akhirnya doa-doa setelah keshalehan kami lah yang diijabah-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga kami semua dalam kehanifan, menjadikan kami semakin baik dan semakin shaleh-shalehah, jika tidak demikian bagaimana pula kami akan mengirimi-mu isak-isak rindu..
Semoga suatu saat nanti, aku bisa menantapmu dengan warna asli, nyata, dan utuh, tidak seprti potret lama yang masih kusimpan itu..
--
Kp. Jawa
Dzulhijjah 10, 1434H
Okt 15, 2013
Sent from BlackBerry® on 3
Jika Ayah masih ada, aku ingin tau Ayah bakalan nyoblos partai apa ketika pemilu. Karena semasa Ayah agaknya per-partai-an itu sama sekali tidak mashur. Yang penting orang pergi pagi mencari rizki lalu pulang menghidupi kami, sudah sampai disitu. Sekarang pun setelah partai banyak, tak banyak juga pengaruhnya dlm pe-rizki-an manusia. Sampe-sampe banyak yang memilih golput karena toh pilih tak pilih nasib mereka tak berubah, dr tahun ke tahun sama saja. Makanya mungkin ya banyak masyarakat y terbeli suaranya dengan 'iming'2 sesaat, dikasi 100-200ribu, atw 5kilo minyak makan, atw 2kilo gula+3kilo beras, setidaknya itu cukup utk bekal beberapa hari. Dari pada memilih ini atau anu juga toh sama sama ga dapat apa-apa juga.. Etapi, ini kita mau membicarakan Ayahku, bukan soal pergolputan.. :dAyah, aku rindu padanya, sekalipun tak ada memoriku yang sempat menyimpan kenangan dengannya. Andai Ayah masih ada, aku ingin tau bagaimana sikap Ayah tentang pemberitaan kisruh di Mesir sana, tentang Palestina, tentang pengungsi Rohingya, yang bahkan sempat terdampar di desa tetangga kita Cot Trueng beberapa waktu lalu, apakah Ayah akan melakukan sesuatu untuk mereka??
Aku ingin tau apakah Ayah suka nonton bola? Team jagoan Ayah siapa? Ayah pasti menontonnya dengan Abang di rumah kan, bukan di warung kopi. Apakah Ayah akan ngomel-ngomel kalau menemukanku asik nonton kartun Doremon setiap wiken setiap aku pulang kampung di masa liburku? Apakah Ayah akan bawel jika krn itu aku sampai lalai membantu ibu menyiapkan sarapan hari minggu kita, yaitu nasi goreng telur dadar dan teh manis..
Apakah Ayah suka minum kopi seperti aku? Ayah suka kopi aja atau kopi susu? Atw malah mungkin Ayah suka kopi tubruk.. Hehehehe. Kita mestinya bisa saling ngobrol soal kopi Aceh yang mendunia dan jadi bahan baku Starbuck itu, pasti seru.. Kalo ada kopi festival, aku ingin Ayah ikut ke Banda Aceh, supaya aku bisa mengamit lengan Ayah dan berkeliling mencicipi satu satu produk kopi produsen lokal kita..

Jika Ayah ada, apakah ayah akan memaksaku kuliah di kedokteran, mengambil jurusan perawat seperti Ayah, atau jurusan hukum? aku ingin tahu apakah Ayah bangga sekalipun aku hanya lulusan Matematika, aku tak jadi ilmuwan, tak seperti dititis akademikku. Apakah Ayah akan marah dan malu karena studiku selesai di tahun terakhir..? Dan IPK ku hanya di bawah 3.. Tidak membanggakan, susah pula kalo mau mengajukan beasiswa kuliah keluar negeri..

Kata ibu di awal-awal pernikahan, Ayah kadang telat juga sholat subuhnya. Hah?? Iya, waktu itu aku juga kaget, bahwa ternyata orang tua kita juga tidaklah sempurna dari sana nya. Di masa muda mereka barangkali ada lalai-lalainya. Tapi tentu itu bukan lah alasan untuk kita mengikut seperti itu juga.. Aku kaget, dan kemudian tertawa, kataku: waaa, ternyata Ayah badung juga ya waktu mudanya.. :D (*dalam bahasa Aceh ;)).
Ayah, jika Engkau masih ada, aku ingin bertanya kepadamu tentang lelaki-lelaki yang baik itu seperti apa? Sekalipun agama telah merincikan semua dan dapat kubaca sendiri adanya. Aku ingin tahu ketika aku jatuh cinta apakah Ayah akan menanyaiku? Apakah Ayah akan ingin tau? Apakah ketika aku 'terluka' aku dapat menangis di bahu Ayah? Oya, kata ibu, semasa muda Ayah banyak idolanya.. :P
Ayah, aku rindu. Cerita-cerita ibu tentangmu seperti coretan buku gambar penuh warna.
Ayah terima kasih, 'bekal'mu kepada Ibu tak terkira. Ibu yang mencintaimu setelah pernikahannya telah mendidik kami dengan kasih dan tegarnya.. Betapa berat hari-hari nya tanpamu, kami baca itu dari rautnya y semakin tua dan lelah..
Ayah, sungguh semua pengandai-an ini tidaklah berguna, pada akhirnya doa-doa setelah keshalehan kami lah yang diijabah-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga kami semua dalam kehanifan, menjadikan kami semakin baik dan semakin shaleh-shalehah, jika tidak demikian bagaimana pula kami akan mengirimi-mu isak-isak rindu..
Semoga suatu saat nanti, aku bisa menantapmu dengan warna asli, nyata, dan utuh, tidak seprti potret lama yang masih kusimpan itu..
--
Kp. Jawa
Dzulhijjah 10, 1434H
Okt 15, 2013Sent from BlackBerry® on 3
Senin, 01 Juli 2013
Bagaimana Jika
Apakah bulir bening yang jatuh dari langit akan kita sebut hujan jika ia jatuh hannya setitik?
Bagaimana jika aku tidak lagi merasakan diriku dalam diri ini. Tapi dimana lagi aku akan mencari diriku di dalam diri ini sedangkan ini adalah aku sendiri. Mematut-matut diri di dalam cermin dengan cara-cara yang tidak kupahami. Melihat bayangan sendiri lantas bertanya itukah aku?
Ternyata kita dapat tidak mengenal lagi diri sendiri bila kita jarang bertemu, sama seperti kita pangling pada kawan lama yang tidak kita temui lagi. Antara kaget, gembira, sambil merangkai sepotong dua kejadian antara yang memudar muncul di ingatan.
Lalu kita mencoba biasa. Seperti seolah inilah diri kita yang sesungguhnya ini. Lalu kita tetap berusaha, menyapa pagi dengan salam yang sama, dengan keingatan-keingatan yang kita usahakan sama, sisa-sisa ucapan yang amat memuliakan namun sudah usang saja lantunannya..
Lalu kita mencoba mengayuh hari hingga matahari terbenam, hanya gulita yang menanti, selalu begitu, melumat senja-senja warna-warni yang kita kagumi itu, seolah sekedar melengkapi peran-peran yang sudah dibagi-bagi demikian adanya.
Lalu seperti malam-malam kemarin, kita berbaring tanpa berani menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena setiap tolehan akan memudahkan apa saja menganak sungai, dan hampir selalu gagal menemukan makna, gagal menuntaskan genangan yang harusnya sarat penyesalan.
Begitulah seharusnya, satu-persatu gulita berganti pagi, apalagi yang hendak digerus zaman dari diri ini? sudah tidak ada apa-apa lagi..
Bagaimana jika aku tidak lagi merasakan diriku dalam diri ini. Tapi dimana lagi aku akan mencari diriku di dalam diri ini sedangkan ini adalah aku sendiri. Mematut-matut diri di dalam cermin dengan cara-cara yang tidak kupahami. Melihat bayangan sendiri lantas bertanya itukah aku?
Ternyata kita dapat tidak mengenal lagi diri sendiri bila kita jarang bertemu, sama seperti kita pangling pada kawan lama yang tidak kita temui lagi. Antara kaget, gembira, sambil merangkai sepotong dua kejadian antara yang memudar muncul di ingatan.
Lalu kita mencoba biasa. Seperti seolah inilah diri kita yang sesungguhnya ini. Lalu kita tetap berusaha, menyapa pagi dengan salam yang sama, dengan keingatan-keingatan yang kita usahakan sama, sisa-sisa ucapan yang amat memuliakan namun sudah usang saja lantunannya..
Lalu kita mencoba mengayuh hari hingga matahari terbenam, hanya gulita yang menanti, selalu begitu, melumat senja-senja warna-warni yang kita kagumi itu, seolah sekedar melengkapi peran-peran yang sudah dibagi-bagi demikian adanya.
Lalu seperti malam-malam kemarin, kita berbaring tanpa berani menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena setiap tolehan akan memudahkan apa saja menganak sungai, dan hampir selalu gagal menemukan makna, gagal menuntaskan genangan yang harusnya sarat penyesalan.
Begitulah seharusnya, satu-persatu gulita berganti pagi, apalagi yang hendak digerus zaman dari diri ini? sudah tidak ada apa-apa lagi..
Tapi itu hanya dulu
udah lama ga nulis, sekalipun yang ditulis juga segitu-gitu aja. lupa, bagaimana cara mengurai kalimat dari untaian huruf-huruf. rindu, saat-saat semua mengalir deras dari tuts-tuts butut, dulu.. tapi itu hanya dulu.. *masa sih harus patah hati dulu baru nulis lagi, hadeuh*
iri, sama temen-temen (eh, temen-temen penulis? emang punya? :p) yang regularly nulis yang bagus-bagus.. :) keren keren mereka itu, ;)
hii days, its crowded outside but i'm felt all alone without writting down any stupid unimportant thing.. but its seem that days going to be that way in few months ahead.
have a nice July ;)
have a nice Ramadhan :)
*bener-bener mati kutu, -___-
iri, sama temen-temen (eh, temen-temen penulis? emang punya? :p) yang regularly nulis yang bagus-bagus.. :) keren keren mereka itu, ;)
hii days, its crowded outside but i'm felt all alone without writting down any stupid unimportant thing.. but its seem that days going to be that way in few months ahead.
have a nice July ;)
have a nice Ramadhan :)
*bener-bener mati kutu, -___-
Minggu, 02 Juni 2013
Bila Ada
Lihatlah langkah yang diseret zaman ini, adakah terasa ringan padahal beban berat dipikulnya. Adakah terasa berat padahal diri sendiri saja yang diurusnya
Yaitu pagi yang kesiangan, dan petang yang terlanjur terbenam. Memuja bulan yang sempurna dan tersedak haru oleh matahari yang pulang sore, sungguh itu tak cukup. Tak cukup.
Ma'tsurat yang terlupa untuk diselesaikan, bahkan kadang lupa untuk dimulakan. Penghambaan yang compang camping, sekenanya memohon ampun namun berharap banyak. Sekenanya bermimpi namun berikhtiar sedikit..
Aku menyeret kaki sendiri, dan kemudian aku bertanya 'aku dimana'.Ternyata kita dapat tersesat pada pilihan sendiri sekalipun. Lalu aku memohon ampun lagi, tapi aku ragu jika aku serius. Lalu besoknya aku kembali lupa, lupa mengingat, lupa memohon ampun lagi, lupa meminta petunjuk lagi, lupa untuk berusaha kusyuk lagi, lupa- bahwa aku butuh Engkau
Semua sobek di sana sini, ntah harus disumpal pakai apa lagi. Sekusut-kusutnya benang yang tak dapat disisir mungkin pun tak dapat dipakai lagi.
Kata orang hati bisa diminta baru, maka adakah stoknya untukku? Kata orang hidayah itu hanya satu, sedang yang satu itu aku ragu masih bisa kupakai lagi, maka bolehkah kupinta yang kedua?
---
June 2, 2013
Ternyata kita dapat tersesat, pada pilihan sendiri sekalipun. Bila Engkau sedia, ajaklah aku kembali. Sungguh aku rindu hatiku, aku ingin pulang..
Yaitu pagi yang kesiangan, dan petang yang terlanjur terbenam. Memuja bulan yang sempurna dan tersedak haru oleh matahari yang pulang sore, sungguh itu tak cukup. Tak cukup.
Ma'tsurat yang terlupa untuk diselesaikan, bahkan kadang lupa untuk dimulakan. Penghambaan yang compang camping, sekenanya memohon ampun namun berharap banyak. Sekenanya bermimpi namun berikhtiar sedikit..
Aku menyeret kaki sendiri, dan kemudian aku bertanya 'aku dimana'.Ternyata kita dapat tersesat pada pilihan sendiri sekalipun. Lalu aku memohon ampun lagi, tapi aku ragu jika aku serius. Lalu besoknya aku kembali lupa, lupa mengingat, lupa memohon ampun lagi, lupa meminta petunjuk lagi, lupa untuk berusaha kusyuk lagi, lupa- bahwa aku butuh Engkau
Semua sobek di sana sini, ntah harus disumpal pakai apa lagi. Sekusut-kusutnya benang yang tak dapat disisir mungkin pun tak dapat dipakai lagi.
Kata orang hati bisa diminta baru, maka adakah stoknya untukku? Kata orang hidayah itu hanya satu, sedang yang satu itu aku ragu masih bisa kupakai lagi, maka bolehkah kupinta yang kedua?
---
June 2, 2013
Ternyata kita dapat tersesat, pada pilihan sendiri sekalipun. Bila Engkau sedia, ajaklah aku kembali. Sungguh aku rindu hatiku, aku ingin pulang..
Langganan:
Komentar
(
Atom
)