Chocolate Covered Sesame Balls

Selasa, 23 Agustus 2011

Jangan Tidur Sebelum 4 Hal


Suatu hari rasulullah saw masuk ke rumah FAtimah r.ha. Ketika itu Fatimah sudah berbaring untuk tidur. Rasulullah saw lalu berkata, "Wahai Fatimah, janganlah engkau tidur sebelum engkau melakukan empat hal: mengkhatamkan al-qur'an, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum mukminin dan mukminat ridha kepadamu, serta melakukan haji dan umrah". Fatimah bertanya:"Bagaimana mungkin aku melakkukan itu semua sebelum tidur?"


Rasulullah saw menjawab, "Sebelum tidur, bacalah olehmu Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) tiga kali. itu sama nilainya dengan mengkhatamkan Al Qur'an. Agar engkau memperoleh syafaat dariku dan dari para nabi sebellumku, maka bacalah shalawat: Allahumma shalli 'ala Muhammad, kama shalaita Ibrahim wa 'ala Ibrahim. Allahumma barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim. Fil 'alamina innaka hamidum majid. Kemudian supaya kamu memperoleh ridha dari kaum mukmiinin dan mukminat, disenangi mereka dan supaya kamu juga ridha kepada mereka, bacalah istigfar bagi dirimu, orangtuamu, dan seliuruh kaum mukmininn dan mukminat. Siapa yang membaca subhanallah walhamdulillah wa la ila ha illallahu wallahu akbar, nilainya sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah"

Menurut Rasulullah saw, barangsiapa yang membaca wirid itu lalu tertidur pulas, kemudian dia bangun kembali, Allah menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berdzikir sehingga orang tersebut di anggap sebagai orang yang berdzikir terus menerus. Sebetulnya bila sebelum tidur kita membaca dzikir, tubuh kita akan tertidur tapi ruh kita tetap berdzikir.

----

:) tadi lagi bongkar bongkar kardus buku nyari BPKB BL 4686 KU yang ntah dimana :(. eh, ketemu dengan lembaran kertas yang isinya tulisan yang di atas itu. dulunya itu bahan tausiyah, :D.. tapi lupa copas dari mana :(..

tadi niatan mau nulis sesuatu, tapi, ga jadi nulis- ini pun jadi lah untuk note malam nni.. :D pas pula jam sebelum tidur. semoga bermanfaat- untuk diri sendiri juga tentunya..

have a nice sleep, dont let the bed bud bite.. :)

sungguh tiada perasaan paling aman kecuali ketika merasa berada dalam penjagaan Allah
semoga besok, kita semua terbangun dalam keadaan mengingatNya, amiin

Minggu, 14 Agustus 2011

[masih] cerita yang sama


Apakah aku sudah bercerita kepadamu tentang api dan air, dalam dua cerita yang berbeda? Apakah engkau masih mengingatnya..?? :)

Tak mengapa jika tidak. Seperti beberapa potong masa lalu yang kita ingin berdamai dengannya, maka apa pun yang pernah engkau dengar dari jemariku itu pun tidak semuanya patut engkau mengingatnya. Ambil saja untukmu bagian-bagian yang dengannya harimu menjadi ceria. Ambil saja untukmu, setiap inci hurufnya yang dapat membuatmu menangis untukmu sendiri, dan kemudian melega.. sesungguhnya itu lebih menyenangkan bagiku sekalipun engkau tidak pernah mengatakannya kepadaku..

Apakah engkau tidak bertanya-tanya, mengapa aku tidak pernah lagi bercerita tentang bulan, dan tentu saja purnama. Tentang bintang, dan langit yang seperti selalu basah jika senja telah turun merayu-rayu air laut untuk terus naik dan naik.

Apakah engkau tidak bertanya, bagaimana perjalanan 45 menitku selama ini? Apakah masih saja dalam menit empat puluh lima itu aku menghilang. Apakah selebihnya aku baik-baik saja? Engkau tau tidak, sebenarnya sangat mudah bagi setiap orang untuk menjadi gila. Semudah menenggak air putih dan kemudian menelannya, sekalipun engkau tidak mengingininya. 

Masih dengan bebait pohon yang sama setiap pagi dan petang. Masih dengan keolengan yang terjadi tanpa kusengaja. Masih dengan kehangatan mentari pagi yang kusukai itu. Dan matahari sore yang seperti telur mata sapi di sebuah tikungan telah menawan hatiku untuk selalu pulang pada jam yang sama. Yaitu pada jam yang kira-kira orang-orang telah wangi dan rapi, siap menenggak sore untuk menyenangkan hati, menikmati sesedikit-sedikitnya hiburan yang ada di kota kecil..

Sesungguhnya tidak ada yang lebih berharga selain apa yang ku tinggalkan setiap pagi, dan kutuju setiap sore, yaitu rumah. Yang setiap beberapa menit ketika aku hampir tiba kepadanya, aku menjadi kebingungan bagaimana cara mengatur raut ini agar tetap dapat ceria, atau setidaknya tidak menyusahkan siapa saja yang melihtnya. Dan pada beberapa bagian waktu, itu tidaklah mudah. Masih ada hari, dimana aku ingin terus menerus perjalanan ini tanpa berhenti, berharap bahwa apa yang aku tempuh masih kan lama, mengeluh dalam hati “oh, Tuhan, mengapa begitu cepat tibanya, padahal aku belum menuntaskan perih ini!”. Mengerjap-ngerjap lekas supaya semuanya lekas mengering..

Dan setiap sebuah perjalanan dimulai, maka itu kutabalkan sebagai hari yang baru. Memohon-mohon dalam hatiku supaya ini tetap menjadi hari yang amanah bagi apa pun yang telah menjadi kewajibanku, pekerjaan. 

Setelah 9 bulan lebih sedikit, ku kira semua telah membaik, menyehat, dan menyembuh. Ku kira aku hebat, dapat menjadi ‘baik’ secepat itu. Namun sekalipun tidak demikian benar adanya, setidaknya aku telah dapat melihat rambutku kembali memanjang dengan normal, ini adalah salah satu hal paling menakjubkan bagiku, selain dari berat badan yang bertambah lebih dari 4 kilogram.. hehe, sungguh, aku takut jika menjadi semakin gemuk.. :D

Dulu aku sering bertanya, mengapa kebanyakan orang yang hilang akalnya dapat berjalan sejauh ini dan itu? Tidakkah mereka merasa lelah? Sekarang aku mengerti, sekalipun sedikit, kurasa aku telah memahaminya..  

Setiap menengadah dan melihat mendung, dan aku tahu bahwa Tuhan adalah penentu dari segala rencana. Setiap melihat sinar bulan membekas di atas atap pabrik penggiling padi pada arah jam 1 di belakang rumahku, aku tahu bahwa Tuhan selalu ada sekalipun aku tak dapat merasakannya, seperti pancaran purnama yang hanya dapa ku nikmati pantulannya tanpa kulihat lagi bentuknya di langit..

Ramadhan 13, 21:08
terima kasih Tuhan, ajari kami untuk terus bersyukur dan bersabar..
agak kecewa karena tidak sempat melihat hujan meteor semalam.. :(



Jumat, 22 Juli 2011

Serat dari Surga

Aku lupa itu ramadhan ke berapa, tapi kejadiannya pada tahun sebelum tsunami itu. Jadi, setelah ku ingat ingat sudah cukup lama juga aku tidak makan serat. Tapi ini sudah hampir akhir bulan, kalo beli bukaan paling tidak hanya nasi bungkus, atau beli lauknya saja, nanti nasinya masak sendiri di kost-an. Dengan berbekal uang paling sedikit diantara kami bertiga aku pede melangkah ke simpang galon membeli sebungkus gado gado, demi hak badan yang sudah lama tidak tunai. Diantara sekian banyak jenis makanan yang bisa dibeli, kami pun jadi bingung. Bukannya bingung ”bli yang mana ya..?”, tapi bingung karena ”pengen beli semua, tapi duitnya cuma cukup tuk beli satu..”, hehe.

Aku sudah mantapkan hati ku pada gado gado. Mata dan bahasa tubuhku sudah kukunci mati pada rak gado gado, dan tak bisa dipindah pindah lagi. Salah satu teman nyeletuk ”wah, pengen juga ya gado gado..”. Tapi si teman itu tidak beli gado gado koq, karena dia juga telah mengunci mati mata dan tubuhnya pada mi caluk yang kebetulan berseblahan dengan gado gado itu. Mulanya akan beli dua, tapi ketika kurogoh saku, hanya cukup untuk satu setengah bungkus. Padahal maksudku, kalo bisa beli dua tentu bisa berbagi nanti dengan teman teman yang bukaannya juga beda beda, kantongnya pada kering tapi pengennya macem macem, hihi.

Kami pun pulang membawa bungkus bungkus bukaan yang beda beda isinya. Sesampai di kost-an, langsung masuk kamar masing masing. Tapi aku masih teringat dengan celetukan tadi, selebihnya karena aku tahu kami semua kurang sekali seratnya. Ku ambil dua mangkuk kecil. Kubagi dan kubagi, terlalu sedikit tidak akan ada gunanya (setiap hari kan mestinya kita makan minimal 30 gram serat, ya kan..?), tapi kalo banyak, nanti aku makan apa dong? Kubagi dan kubagi, hanya sisa beberapa potong tahu, dan lembar selada yang sudah suwir. Tapi aku puas melihat kedua mangkuk yang menjadi cantik karena gemuk isinya. Hati menggerutu, ”kenapa tadi tidak beli pecal saja, kan sayur hijaunya lebih banyak..”. Ah, sudahlah. Waktu berbuka kurang dari setengah jam lagi, jadi kuantar segera kedua piring gado gado itu kepada ”pemilik”nya. Mereka senang dan aku pun puas.

Kembali ke kamar, sejumput sisa gado gado bercampur bumbu kacang ku biar tetap dalam bungkusnya, terbuka, menunggu tuannya. Hati ini meringis, tapi tidak lama, pletak rice cooker yang tandakan nasiku tanak mengagetkan seisi hati ini, tidak boleh menyesal. Selagi ruang dalam rice cooker masih hangat, kumasukkan cangkir air putih, beberapa menit lagi aku bisa menyeduh susu coklat sachetan kiriman dari kampung. Iya, sampe sekarang pun susu sachetan masih dikirim dari kampung, termasuk kadang telur ayam, dan juga telur mata sapi.. hee. Seolah olah, barang barang semacam itu tidak dijual di banda aceh ini.. hehe.

”samlekom... samlekom..” dua kali salam itu disahut cepat cepat, tidak sabar menunggu jawab dari empunya rumah. ”aleikumsalam..” jawabku, suara salam bariton mendekati kamarku. Aku melongokkan kepala. Diluar, seorang lelaki berhelm menenteng kardus mi instant kelihatan agak terburu buru. Aku tau dia, dia juga tau diriku. Ini kurir yang biasa mengantar kiriman dari kampung.
”ada kirimian ya bang..?” tapi sebelum pertanyaan itu keluar dari mulutku seluruh raga ini sudah suka cita, betapa pelupanya aku hingga tidak ingat sedikitpun bahwa hari ini aku dapat kiriman dari kampung. Hoh, betul. Sekarang aku ingat, ada satu sms tadi pagi dari emak, katanya: ”hari ini mak kirim makanan ya, tapi ga banyak, cuma bla.. bla..” begitulah kurang lebih, hee. Apa pun isinya, kiriman dari kampung selalu membuat ku tak sabar tuk membukanya.

”tanda tangan di sini ya..”
“oh, iya iya” segera ku teken nota kecil sebagai tanda aku telah menerima kiriman itu dengan selamat. Dan tidak lupa ku kukatakan terima kasih pada lelaki kurir yang kelihatannya terburu buru karena waktu berbuka sudah dekat.

Huft! Di luar lengang. Anak-anak pada masuk kamar menuggu waktu berbuka. Jadi selamatlah wajah ku dari memerah karena di serbu godaan yang menggombali kardus kirimanku ini, hehehe.


Tali temali warna hitam segera ku potong di sana sini supaya lebih cepat aku dapat melihat isi kardus itu. Lupa aku bahwa temali itu kalo dipotong di satu titik tentu talinya bisa dipake lagi nanti, aih- pokoknya aku tak sabar. Berdebar, tidak tau apakah karena lapar atau karena penasaran dengan isi kardus mie instan ini, hehe. Sejujurnya, aku tidak ingat persis apa isi kardus itu. Kardus yang tidak dalam itu, yang hanya butuh beberapa menit untuk membongkarnya. Yang aku ingat, ada gula putih, susu sachetan, nasi putih, tempe goreng, telur ayam, telur mata sapi, saos botol, dan beberapa lauk yang membuatku serasa buka puasa di awal bulan.. dan ada satu bungkusan yang begitu istimewa hari itu. Dibungkus dalam plastik gula dilapis dua. Sangat sederhana. Taukah? Sebungkus sayur bayam lah yang membuatku tak bisa melupakan hari ramadhan itu. Sayur bayam yang full kesukaan ku. Bukan sayur bayam di warung warung yang cuma selembar dua isinya. Sayur bayam yang banyaknya kalo ku takar takar cukup untuk makan bertiga, tapi kalau untukku itu sekali makan sahaja, heee. Aku menimbang, mengelus, berseru syukur tak habis habis, sekalian juga tak habis pikir; koq bisa ya? Begitu cepat balasan itu Rabbi. Tak akan kulupakan. Sungguh tak bisa kulupakan..

Hari itu, ada ”sesuatu” yang kurindukan hari ini. Madu nian.. :D Terima kasih emak. Terima kasih Ya Tuhanku

Ku angkat cangkir dari rice cooker, kuseduh susu coklat sachetan dari kiriman sebelumnya yang tinggal beberapa bungkus lagi. Terburu-buru, karena suara mengaji sudah ’sadaqallahul adhim”.. sementara isi kardus ku biar berserak dulu membentuk hampir setengah lingkaran di depan ku.

 
*maaf bila judulnya berlebihan.. :p
”memanaskan kembali air isi ulang sebenarnya tidak boleh ya? tapi waktu itu bandel, tetap aja dilakuin.. :|



--------------------  
bisa juga dibaca di Serat dari Surga

sedepa jaraknya

bagaimana matahari membuka hari melalui subuh yang teduh
dan seperti itulah harumnya, seperti sedepa jaraknya

menjaga hari dari cerca
tentang surau surau yang menjadi ramai dengan suara mengaji
juga malam malam penuh tasbih tarawih
tentang waktu berbuka yang dinanti
dan waktu sahur yang diakhiri..

dan kini semua rindu telah menggenang di pelupuk mata
keindahannya- sungguh- melebihi picisan picisan ini..

01:12 :: 22072011

Senin, 18 Juli 2011