Chocolate Covered Sesame Balls

Kamis, 09 Februari 2012

Hal-hal yang tidak dapat kujelaskan

Ada hal-hal yang tidak dapat kujelaskan kepadamu, dan memang tidak perlu. Yaitu hal-hal yang tidak menjadi lurus oleh seberapa pun banyak huruf melipat kata. Yaitu hal-hal yang barangkali membuat jantungmu berhenti sekalipun hanya sepersekian detik karena tak ingin percaya adanya. Yaitu sesuatu yang sesungguuhnya jauh lebih penting untuk tidak engkau ketahui ketimbang engkau mencari-cari alasan untuk menyetujuinya. Sesungguhnya hal-hal demikian itu sama sekali tidak perlu ku utarakan kepadamu.


Nanti, bila kita telah sama memahami diri- diam pun menjadi makna yang tidak perlu kita utarakan lagi. Dan sebanyak apa pun perdebatan yang dapat kita perbuat- itu adalah segala sesuatu yang akan membuat kita semakin mendekat. Aku tak memintamu mempercayai ini sekarang..

Ada hal-hal yang tidak hendak ku katakan kepadamu- seperti demikian banyak hal yang tidak perlu pula ku ketahui tentangmu di waktu lalu- yaitu segala sesuatu yang jika aku mengetahuinya membuat waktu terasa lebih lambat berlalu.

Dan apa pun itu- mengapa pula aku harus peduli?? Bukankah diri yang sedang kita jalani hari ini- itulah kita. Biar semua yang lalu itu menjadi apa yang kita sebut keping-keping hikmah yang harus kita imani ke-terjadi-annya, kita sesali kekhilafaanya- tidak lagi kita sebut-sebut jika itu hanya menyayatkan duri di hati.

Mengapa aku harus khawatir jika aku telah percaya bahwa aku dan engkau hanyalah manusia-manusia yang ingin menjadi semakin baik- terus menurut pada kehanifan yang mudah sekali disepoi zaman..

full moon night Kp. Laksana- 09022012- 23:08

Kamis, 02 Februari 2012

Mimancherai

Mengapa aku harus kecewa bila; aku telah percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi itu ‘Dijadikan’ Tuhan untuk kebaikan kita juga. Mengapa aku harus kecewa bila; aku telah meyakini bahwa seberat apa pun, proses adalah jalan yang ‘harus’ dilalui sehingga kita bisa tiba pada kelas yang semakin baik dan lebih baik lagi. Mengapa aku harus kecewa bila; sekalipun luka itu sakit maka itu pula yang dapat mengajarkan kita untuk menjadi lebih peka. Mengapa aku harus kecewa jika; ‘pemanfaatan’ dari orang lain itu baru belakangan tersadari dan terasa amat menyakitkan- sedang aku telah mengikhlaskan setiap ‘pemberian’ seperti aku memberi untuk diri sendiri, bahkan lebih baik dari itu.

Mengapa pula aku perlu mengungkit luka- jika tanpa melakukannya ia dapat sembuh juga. Mengapa pula aku perlu menceritaimu tentang aib-aib bila tanpa melakukannya Tuhan tetap akan memaafkan semua jika kita memohon ampun. Mengapa pula aku perlu larut dalam hari-hari yang sudah lalu itu jika apa yang ada sekarang jauh lebih penting untuk diteruskan- agar kita semua dapat benar ‘hidup’ kembali- mudah mudahan demikian.

Bila aku mencari apa yang telah ‘mati’- barangkali aku harus mati dulu, begitu. Maka aku memilih untuk ‘hidup’ hingga waktu yang telah ditentukan di Lauhul Mahfud itu.

Bila aku mencari hati yang dulu- aku tau ia telah tiada. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkannya tetap ‘bersih’ sedang kita sendiri terus mengotorinya, terus mengotorinya..

Bila hari-hari adalah lembaran yang terus kita tulis tanpa dapat kita menghapusnya lagi- maka sekalipun kita menulisnya dengan pinsil- keharusan untuk menghapus kembali tetap menyisakan bekas yang tak lagi rata.
Bila engkau bertanya kepadaku tentang bagaimana menghapus rasa bersalahmu- maka aku bukanlah sholehah yang dapat menceramahi mu tentang itu semua. Dan tentu hanya kepada Tuhan kita minta ampun- kepadaNya kita memohon ketenangan yang sama dan kebahagian yang lebih baik untuk orang-orang yang pernah kita sakiti, hatinya.

Selayaknya kita bersyukur ketika Tuhan tetap memberkahi kita untuk terus larut dalam hari-hari sibuk yang mengeringkan luka-luka. Tentu saja sangat berbeda bukan, antara orang-orang yang berangkat pagi dengan sholat subuh dan meneruskan hari dengan 4 sisanya- dengan orang yang menyisir hari begitu saja tanpa sebilah sujud pun di dahinya. Semoga Tuhan senantiasa menunjuki kita kebajikan dan kekuatan untuk cenderung kepadanya, amiin.

Dan selayaknya aku bersyukur- sekalipun ‘pakaian’ yang masih melekat ini hanyalah sekedar melekat- hampir hampir kehilangan makna..

Wahai hati engkau dimana aku rindu. Datanglah kembali aku ingin bertemu. Bisikkan kepada angin- tidak sekedar kenangan indah tentang ‘keyakinan’. Bisikkan juga kepadanya tentang bagaimana aku dapat menemukan dirimu (lagi). Tentang banyak sekali hal yang tak dapat  kujelaskan- dan mungkin tidak dapat Engkau terima- maafkanlah aku. Dan untuk semua hal yang pernah kutinggalkan- biar aku memungut kembali puingnya yang berserak. Dan kutahu kepingnya yang menjadi utuh nanti tidak akan lagi sempurna indahnya seperti dulu itu.

Kp. Laksana, Februari 2, 2012- 0:57- 


Walau kini kau tlah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati  .........(Jogyakarta- Kla Project)

Mi mancherai, mi mancherai
Perchè vai via perchè 
l'amore in te s'è spento
perchè, perchè.
Non cambierà niente lo so
e dentro sento che
mi mancherà l'immensità 
dei nostri giorni e notti insieme noi
i tuoi sorrisi quando si fa buio
la tua ingenuità
? tu
mi mancherai amore mio
mi guardo e trovo un vuoto 
dentro me .....................(Mimancherai- Josh Groban)

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)