Chocolate Covered Sesame Balls

Sabtu, 16 Agustus 2008

tabuh pun memanggil

Tabuh itu sudah berbunyi lama
Dentam bunyinya baru sayup di telinga
Tabuh itu sudah berbunyi lama
Tapi aku baru sadar
Bahwa dentam itu akan semakin keras

Aku tak bisa lagi menunggu
Waktunya atau bukan
Aku harus bergerak
Sudah cukup hening aku berpikir
Sudah cukup alasan untuk tidak melakukannya

Begitu bodohnya
Memberi waktu pada lalai
Membiarkan angan menguasai pikiran

Perang sudah lama dimulai
Dan aku kehilangan barisan
Kehilngan pedang
Memalukan

Riuh itu kini terasa mendebarkan
Kematian tidak lebih mengakhawatirkan
Ketimbang kepulangan dalam kekalahan
Kematian ini akan mengerikan
Karena aku tidak punya persiapan

cinta itu...

Cinta tidak pernah menghancurkan
Apalagi berusaha membunuh kita

Cinta sama seperti kita
Ia hanya minta untuk dimengerti
Mengerti bahwa
Kadang kita harus kehilangan ketika ingin memiliki
Kadang kita harus menjauh ketika di dera rindu
Sering kita harus merelakan ketika hasrat begitu tinggi
Sering kita harus memberi ketika kita tidak punya apa-apa
Meminta kita berkorban ketika kita sudah sangat terluka
Meminta perhatian lebih ketika kita merasa gersang kasih sayang

Aku tak bisa memaknainya dengan sempurna
Begitu juga kau dan yang lainnya, setuju kan??

Benar bahwa ia tak pernah permisi
Tapi ia datang dengan lembut dan mengetuk sisi hati
Sisi hati yang boleh jadi penuh dengan cinta
Sisi hati yang mngkin begitu rapuh
Sisi hati yang mungkin begitu keras
Sisi hati yang mungkin tidak pernah kita hiraukan

Cinta, begitu sempurna
Kita, masing-masing,
Tidak pernah dapat menggambarkannya dengan sempurna

Benar, cinta tak pernah menunggu
Ia mendahului waktu dan menuliskan ingin dalam hati

Cinta itu tidak kejam
Hanya kita kadang memaknainya sekehendak hati
Mencampurnya dengan nafsu yang sering menguasai kita
Menjadikannya alasan membenarkan persepsi
Mengagungkannya lebih dari Sang Pencipta cinta...

Cinta memang ada
Aku sendiri
Kamu sendiri
Kita, masing-masing
Tak kan mampu mendefinisikannya dengan sempurna

Kita hanya perlu mengerti tanpa minta untuk dimengerti
Kita hanya perlu menyanyagi tanpa minta dikasihi
Kita hanya perlu memberi tanpa berharap menerima
Kita hanya perlu berkorban dan tidak berharap imbalan

Mungkin kita akan merindukan tanpa pernah menemuinya
Mungkin kita akan kehilangan tanpa pernah memilikinya
Mungkin kita akan meminta tanpa pernah mendapatkannya

Begitulah
Begitu rumit dan membingungkan
Terlihat sederhana tapi begitu sempurna

Aku sendiri, tiada bisa memaknai dengan sempurna
Karenanya maafkanlah,
Jika aku tiada dapat mencinta dengan sempurna

Ia-lah...
Yang menciptakan cinta
Mendefinisikan dengan sempurna
Memberikannnya dengan sempurna
Dan satu-satunya,
Yang mencintai dengan sempurna

kepak semakin berat

Betapa hancurnya...
Betapa remukknya...
Berkeping waktu memmecah hati
Dan tidka tau bagaimana mengumpulkan remah berserakan
Sakit
Betapa sulit menyembuhkan luka
Air mata, berhentilah mengalir supaya semua terlupakan
Atau menganak sungailah supaya tak berbekas jejak tertinggal
Bersembunyilah rasa, menghilanglah perlahan, supaya aku tenteram

Kepak serasa berat
Patah tak memberi waktu untuk sekedar menahan nyeri menyesakkan
Perjalanan tak tau ujungnya
Perhentian ini terasa bermanfaat, pasti
Melanjutkan perjalanan adalah pilihan terbaik

ambillah kembali

Bismillah

Aku tak sanggup menahan dan menunggu malam tiba
Menunggu sunyi dimana hanya ada aku dan sepi
Mengetikkan rasa hati yang hampir 30 hari barantakan

Hari ini
Ku kira semuanya telah berlalu
Kukira hari telah mengantar mentari seperti biasa
Kukira angin telah berhembus dan awan hitam telah menghilang

Ternyata aku lemah
Jiwa ini Engkau yang menggeggamnya
Ternyata hati ini begitu masih gundah
Lukanya masih basah dan kini terbuka lagi

Inikah rasanya sakit?
Kalau begitu telah tahulah aku akan rasanya

Kukira
Permainan itu sudah kuakhiri
Tapi aku salah
Ternyata aku tidak bisa mengakhirinya sendirian
Tidak bisa sendirian

Sekerat hati ini
Ambillah kembali Ya Rabb
Dan untuk selamanya

Senin, 11 Agustus 2008

Mensyukuri Impian

Betapa tidak puasnya kita dengan apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Betapa sedikit syukur, dan betapa sering kita mengeluh dengan apa yang sudah di tangan kita. Begitulah...

Kalau kita hitung-hitung, sedikit sekali keinginan kita yang tidak dipenuhiNya. Hayo! Coba hitung satu persatu. Mulai dari yang paling dekat. Baju yang kita pakai, tas yang kita kenakan, sandal yang kita pake untuk jalan, jurusan tempat kuliah kita sekarang, dsb, so, nikmat mana lagi yang mau kita dustakan??! Bahkan banyak hal (baca: nikmat) tak terduga yang ternyata sangat kita cintai dan kita sukai. Mungkin ketika kecil dulu pernah pengen jadi ilmuwan. Dan sekarang pun sedang kuliah di jurusan yang menempa kita untuk menuju kesana. Eh baru ingat, kalau ternyata kita tidak memanfaatkannya dengan benar. Padahal itu mimpi masa kecil kita, yang siapa nyana akan terkabul. Jalan yang panjang dari masa kecil hingga kuliah membuat kita lupa keinginan dan mimpi yang pernah kita punya dulu. Dan ketika itu terkabul, kita merasa biasa saja. Tidak mensyukurinya dengan maksimal. Tidak mensyukurinya dengan memanfaatkan nikmat itu sebaik mungkin. Nyesel kan??!

Masa yang berlalu hingga kita melupakan bahwa kita pernah memimpikan hal itu, boleh jadi di dalamnya kita sama sekali tidak melihat tanda-tanda akan menuju kesana. Dengan kata lain, ketika bermimpi, ya sekedar bermimpi. Tidak ada tindakan yang kita lakukan untuk mewujudkan mimpi itu. Makanya kita lupa. Kalau pun ada yang kita lakukan itu sedikit sekali dan seringnya tanpa kesadaran penuh bahwa itu semua kita lakukan untuk mencapai mimpi. Wajar! Waktu itu kita masih kanak-kanak, tidak bisa membedakan mana hal yang kita senangi dan mana hal yang seharusnya kita lakukan, iya kan??! Maunya sih senang-senang melulu... hehe

Dan sekarang kita sudah sedikit lebih dewasa. Karena sudah banyak melihat, mendengar, dan melakukannya sendiri. Karena itu, kalau bermimpi, catatlah baik-baik dalam memori, di catatan harian, di mana pun yang membuat kita sering melihatnya. Supaya kita ingat bahwa kita punya impian itu. Supaya ketika yang Kuasa berkenan mengabulkannya, meskipun dalam keadaan setengah dari yang kita impikan, kita masih nyadar untuk memanfaatkan karunia itu sebaik mungkin. Tanpa mengeluh dengan konsekuensi/kerugian yang timbul dari terpenuhinya mimpi itu.

Ketika bermimpi, seringnya, kita hanya membayangkan yang indah-indahnya saja. Seringnya lupa mendaftarkan segala kemungkinan buruk jika impian itu terkabul. Padahal sudah menjadi keniscayaan, bahwa ketika kita menerima sesuatu maka kita juga akan mengeluarkan dalam jumlah yang hampir sama. Begitu kan hukum keseimbangannya??! Ketika kita harus meluangkan waktu untuk impian kita, akan ada waktu yang tersita yang biasanya kita gunakan untuk senang-senang, ngumpul dengan temen, keluarga, dan melakukan hal lain yang enjoyable bagi diri pribadi.

Ini adalah hal yang mutlak akan terjadi. Dan selalu akan menyertai setiap kita ingin mewujudkan impian, atau ketika impian kita tercapai. Dalam kondisi seperti ini bisa jadi kita akan mengeluh, menyalahkan banyak hal, tertekan karena tidak ada waktu untuk dir pribadi, merasa tidak mendapat hasil yang setimpal, dsb. Dan teman saya pernah bilang, bagaimana kalau hal ini terjadi setelah kita menikah??! Yup! Siapa tau pasangan yang akan kita nikahi nanti memang merupakan seseorang yang kita impi-impikan. Betapa beruntungnya ya??! Tapi setelah melalui hari-hari, bulan-bulan, dan bertahun-tahun setelah menikah, bagaimana kalau perasaan tidak puas, mengeluhkan pasangan, atau merasa seluruh waktu kita tersita untuk membagiakan pasangan menjadia hal yang sangat membebani kita??!

Memang, semua orang bilang, siap menikah berarti siap untuk saling menerima segala bentuk kekurangan dan mensyukuri kelebihan, juga saling melengkapi. Tapi apakah memang akan semudah itu??! Hayo! Yang sudah menikah, jawablah pertanyaan ini dalam hati.

Menikah adalah nikmatNya. Bisa menikah dengan orang yang kita cintai apa lagi... sebelum menikah, kita berjanji (sekalipun sekedar pada diri sendiri) untuk meminimalkan mengeluh dan mencoba menerima kondisi yang ada, dan terus saling memperbaiki diri masing-masing; intinya siap dengan segala konsekuensi.

Nah, kalau menikah itu impian kita, bagaimana dengan impian-impian yang lain??! Adakah kita memikirkannya sesempurna kita memikirkan pernikahan itu? Atau berusaha menjalaninya dengan cara yang sempurna. Menerima konsekuensinya, mensyukuri dengan melakukan hal terbaik untuk mendapatkan hasil semaksimalnya, menyerahkan segala hasilnya pada zat yang menganugerahi kita nikmat dan kemampuan untuk mengelolanya. Sudahkah??!

Karenanya, bagi yang belum menikah, jangan terburu-buru, boleh jadi Allah masih menunda kita bertemu dengan seseorang yang kita tunggu, karena memang ternyata kita belum siap untuk mensyukuri nikmat itu. Wong nikmat yang sudah ada saja kita belum cukup nyadar untuk mensyukurinya, apalagi nikmat sedahsyat pernikahan.

Berproses dalam mewujudkan impian itu, tidak bisa dipungkiri sangat menyakitkan dan melelahkan. Butuh banyak energi, sebanyak energi yang dibutuhkan kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Tentu di samping menyakitkan, ada yang lebih indah dari impian itu sendiri, yaitu out come dari proses itu sendiri, menjadi kupu-kupu yang indah.

Sekarang, coba kita ingat-ingat sekali lagi, berapa banyak keinginan kita yang belum terpenuhi. Catat. Dan buktikan lah bahwa ini akan terpenuhi, cepat atau lambat, tergantung dari sebesar apa hasrat kita untuk memilikinya dan usaha kita untuk mendapatkannya. Lha, keinginan kita saja yang cuma lintas di hati saja bisa kejadian , gimana lagi dengan keinginan yang benar-benar kita usahakan??! Dan yang pasti kita harus siap dengan semua konsekuensinya, termasuk konsekuensi bahwa impian itu akan terganti dengan sesuatu yang lebih baik, alias impian itu tidak tercapai sesuai yang kita harapkan.

Kalau ternyata memang banyak diantara nikmat yang kita terima belum kita syukuri dengan baik, la tahzan, masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Nikmat adalah setiap yang membuat kita tersenyum, segala sesuatu yang membuat kita senang, sesuatu yang memberi kita pelajaran, semua yang memudahkan langkah kita, bahkan juga segala sesuatu yang menguraikan air mata, segala sesuatu yang menggundahkan hati, semua bentuk penundaan, dan musibah-musibah yang tak terduga. Yakinlah, nikmat Allah itu ada di setiap sel, setiap detik, setiap ruang yang kita tempati, jadi tunggu apa lagi, bersykurlah dengan memanfaatkan nikmat yang ada untuk menjadi semakin berguna untuk sesama dan semakin dekat denganNya.

Satu hal, bukanlah nikmat itu yang kita tuju, tapi ridha dan cinta dari zat yang memberi nikmatlah yang kita cari. Semoga kita semakin cerdas memanfaatkan nikmat ‘ini’ untuk semakin dekat kepadaNya... amien.

Syukran jazakallah untuk ‘semua’ yang sudah menginspirasi 
Semoga kita menjadi lebih baik setiap hari

Kamis, 07 Agustus 2008

re-write my life...

Mungkin skenario ini memang harus sedikit berubah

Tak mengapa
Toh aku masih bisa menjadi peran utama, jika mau
Mungkin aku harus lebih banyak belajar mengambil gambar
Tidak cukup hanya dari satu ‘angle’
Tidak cukup hanya dari satu kamera sendiri
Siapa tau memang harus menyewa kameramen lain
Berusaha menjadi profesional perlahan-lahan
Lebih baik, ketimbang tidak pernah mencoba...

Durasi kadang kan terasa lama,
Dan memang perlu membaginya menjadi episode lebih pendek
Akan membantuku mengerjakannya lebih baik
Membantuku mengevaluasi dengan cermat
Mengurangi kesalahan yang ingin kuhindari setelahnya

“Ok crew, masa rehat selesai!
Kita akan kembali mengambil gambar
Bersiap-siaplah dengan aksi paling menawan!"

Jangan khawatir,
Kata “cut” akan selalu nyaring terdengar
Otomatis, jika ada adegan tak pantas
Atau mungkin patut untuk di hargai
Atau mungkin seluruh sesi pertunjukan memang telah selesai...

Oya, satu hal
Pertunjukan ini hanya sebentar,
Berikanlah akting paling jujur dan paling baik yang kita punya!

semester lanjut!!!

Semester sebelass??? Bukan angka yang gampang untuk disebutkan. Idealnya kan mahasiswa itu menamatkan kuliah hingga semester 8 – 10 saja. So what’s up??! Yup, here i am (tapi sayangnya kata-kata ini tidak bisa melanjutkan lirik-lirik lagu Bryan Adam yang indah itu).

Sekitar tiga minggu lalu, dapat pengumuman dari jurusan, mengenai syarat untuk yudisium. Aku memang tidak targetkan yudisium bulan Agustus. Tapi sekedar baca, soalnya pak Hizir suka tanya di pertemuan TA segala info berkaitan dengan wisuda, yudisium, tanggal terakhir untuk bisa wisuda bulan 8, tanggal terakhir untuk bisa yudisium bulan 8, dan tanggal penting lainnya. Cape deh! Siapa suruh jadi “kepala suku” grup TA bimbingan pak Hizir. Bungkus dah!

Nah, dari pengumuman itu, ketauan kalau untuk bisa yudiisum bulan Agustus mahasiswa tidak boleh memiliki D lebih dari 8 sks. Padahal dua semestter yang lalu, bukan 8 sks minimalnya, lebih banyak. Makanya mata kuliah yang kukantongi nilai D, dibiarkan saja ngDodol di KRS-ku. But now, ga dipaksa pun, aku harus memperbaiki nilai D ini.

Kabar baiknya, jika aku bisa dapat nilai yang lebih bagus (dan memang harus bisa), IPK akan sedikit terdongkrak. Kabar buruknya, ketiga mata kuliah, yang masing-masing 3 sks, itu semua sama menyeramkannya. Analisis 1 dan Analisis 2, adalah momok bagi ku (dan kurasa bagi setiap mahasiswa Matematika). Jangan kata dosennya. Hitung-hitungannya tidak banyak, tapi teksnya justru begitu sulit untuk dipahami. Bahasa matematika tingkat tinggi. Butuh analisa, logika, dan khayalan dari bulan.... ops, what the maksud?? Yup, memang begitu menurutku. Memang dimana-dimana mata kuliah sejenis ini butuh banyak latihan. Dalam mata kuliah ini, selain belajar menganalisis, juga belajar menulis matematika, belajar, dan untukku ini juga belajar untuk tidur di kelas haha.. cape deh pokoknya... hehe.

PBO (Pemograman Berorientasi Objek), padahal sebelumnya aku berencana untuk memperbaiki mata kuliah ini saja. Pertama kali ambil mata kuliah ini, aku dapat C. Trus nekat perbaiki karena pede amir bakal dapat A atau minimal B, ga taunya malah pak Zahnur jauh lebih nekat, dan aku pun dapat D! Mantap! Memang tidak lebih mudah. Apalagi kalau masih pake bahasa Java. Tapi masih lebih mending ketimbang Analisis 1-2.

Dan untuk semester yang sudah kudaftar ini, aku hanya bisa mengambil mata kuliah Analisis 1 untuk diperbaiki. Karena baik PBO biasanya dibuka pada semester genap. Analisis 2? Otomatis tidak masuk pilihan lagi. Ya sudahlah!

Target untuk mendapat nilai bagus tentu harus dirancang dari sekarang. Mulai dari pinjam teks book (baca: diktat) sama adik kelas, sampe menghubungi kakak kelas yang T-O-P B-G-T untuk privat... ho..oh, mudah2an menjadi semester yang menyenangkan (baca: cukup untuk membuat bulu kuduk merinding, mata berkantung, dan ngopi setiap sebelum jam kuliah sudah pasti!). amien!

Trus TA (tugas akhir) gimana?? Kemarin itu rencananya mo ganti topik dari Search Engine ke Internet Radio, tapi pak Hizir menganjurkan supaya aku menunggu pak Taufik yang kabarnya akan mulai berada di Banda Aceh sekitar awal Agustus. Ya gitu deh. Maksudnya supaya bisa tanya-tanya dulu ke pak Taufik, mana tau judul itu masih bisa dilanjutin. Target wisuda otomatis juga akan bergeser 1 semester lagi!! 1 semester lagi??? Iya, setelah sebelumnya molor dua semester alias 1 tahun. Batapa meruginya.

Trus, target menikah??! Wacks!!! Ini ne, pertanyaan paling indah, panjang, dan lama kalo dijawab di sini. Abis, kalau dijawab musti menghayal dulu ne Ha ha, makanya jawabnya di kesempatan yang laen aja deh. Eh, btw, siapa yang nanya ya??! Tapi impruv dikit ga apa ya, hehe... menyenangkan hati sendiri..

Ya begitulah, awal semester selalu mendebarkan. Kadang juga mengerikan, mengingat beberapa semester selalu berkahir tanpa hasil yang memuaskan dan tidak sesuai target. Katanya sih, selalu ada pembelajaran kalau ada kegagalan, selalu ada hikmah kalau ada penundaan. Tapi kalau gagal gagal melulu, apa bisa dikate sukses mengambil pelajaran ya??. Wong, kalo kita kuliah aja dibilang bisa mengambil pelajaran tu kalau bisa dapat nilai minimal B... artinya kalo mo mengambil pelajaran ya musti sukses gitu, sekalipun sukses di ujung2nya... hehe (maksa betul!)

Semester ini akan berakhir pada sekitar bulan Februari. Ini bukan waktu yang lama. Sekalipun banyak hal yang bisa terjadi di dalamnya. Janji dah, ga maen-maen lagi. InsyaAllah... amien.